Gelembung Ekonomi Jepang

Penggelembungan harga aset di Jepang biasa disebut “gelembung ekonomi” (Bubble Economy) adalah gelembung ekonomi yang terjadi di Jepang pada masa 1986-1991, ketika harga properti dan harga saham yang sangat meningkat. kejatuhan Gelembung itu berlangsung selama lebih dari satu dekade dengan ditandai pada harga saham yang mulai menurun pada tahun 2003, meskipun harga saham tersebut turun lebih jauh di tengah-tengah krisis global pada 2008. Gelembung harga aset di Jepang memberikan kontribusi terhadap apa yang orang Jepang sebut sebagai Dekade yang Hilang “Lost Decade”

Setelah Perang Dunia II, Jepang menerapkan tarif ketat dan kebijakan untuk mendorong orang untuk menyimpan penghasilan mereka. Dengan lebih banyak uang di bank, membuat pinjaman dan kredit menjadi lebih mudah untuk diperoleh, dan ditambah dengan kondisi Jepang yang mengalami surplus perdagangan yang besar, yen mulai diapresiasi dan menguat terhadap mata uang asing. Hal ini memungkinkan perusahaan-perusahaan lokal untuk berinvestasi dalam sumber daya modal jauh lebih mudah daripada pesaing mereka di luar negeri, dengan berkurangnya harga barang-barang buatan Jepang dan memperlebar surplus perdagangan, dengan apresiasi yen, aset finansial menjadi sangat menguntungkan. Salah satu alasan utama untuk apresiasi yen yang tiba-tiba adalah setelah perjanjian Plaza Accord.

Begitu banyak uang tersedia untuk investasi, dikombinasikan dengan deregulasi keuangan, terlalu percaya diri dan euforia tentang prospek ekonomi, dan pelonggaran moneter yang diterapkan oleh Bank nasional Jepang, Bank of Japan di akhir 1980-an mengakibatkan munculnya spekulasi yang agresif, khususnya di Tokyo Stock Exchange. Indeks saham Nikkei mencapai rekor tertinggi pada tanggal 29 Desember 1989 yang saat itu mencapai tinggi 38,957.44 sebelum ditutup pada 38,915.87. Selain itu, bank-bank mudah memberikan pinjaman ke entitas yang berisiko.

Harga yang tertinggi ada di distrik Ginza, Tokyo pada tahun 1989, dengan harga lebih dari 30 juta ¥ per meter persegi ($ 93.000 per kaki persegi). Harga hanya sedikit berbeda di daerah bisnis besar lain di Tokyo. Pada tahun 2004, properti di distrik keuangan Tokyo telah merosot menjadi kurang dari 1 persen dari sewaktu masa puncaknya, dan rumah hunian di Tokyo berharga kurang dari sepersepuluh dari sebelummya, namun masih berhasil terdaftar sebagai yang paling mahal di dunia sampai yang dilampaui oleh Moskow tahun 2000-an. triliunan dolar musnah dengan runtuhnya gabungan dari saham Tokyo dan pasar real estat. Hanya pada tahun 2007 harga properti mulai naik, namun, mulai jatuh kembali pada akhir 2008 karena krisis keuangan global.

Dengan ekonomi didorong oleh tingginya reinvestasi, kejatuhan ini jatuh dengan keras. Investasi semakin diarahkan luar negeri, dan perusahaan manufaktur kehilangan beberapa derajat keunggulan teknologi dan produk-produk Jepang menjadi kurang kompetitif di luar negeri. Bank Sentral Jepang menetapkan suku bunga pada sekitar angka nol.

Kredit yang mudah didapat telah membantu menciptakan gelembung tersebut terus menjadi masalah beberapa tahun ke depan, dan di akhir 1997, bank masih membuat pinjaman yang memiliki kemungkinan rendah untuk dilunasi. Para pemberi pinjaman dan pemberi Investasi sulit menemukan investasi yang akan memberikan profit. mengatasi masalah kredit menjadi semakin sulit karena pemerintah Jepang mulai mensubsidi bank-bank gagal dan bisnis gagal, yang menciptakan apa yang disebut sebagai “bisnis zombie”.

Waktu setelah menghilangnya gelembung itu, Yang terjadi secara bertahap daripada serempak, dikenal sebagai “dekade yang hilang” Di Jepang. Pada tanggal 10 Maret 2009, indeks saham Nikkei 225 mencapai titik terendah 27-tahun dengan nilai 7054,98.

images by
http://seekingalpha.com/article/143137-banks-of-the-living-dead
http://cointrader.wordpress.com/
http://www.theyoungturks.com/story/2010/11/12/203448/80/Diary/The-G-20-reaches-consensus-failure

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,274 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: