Kapal Induk

Menurut wikipedia versi Indonesia, kapal induk atau dalam bahasa Inggris disebut Carrier Vessel (CV) adalah kapal yang memuat pesawat tempur dalam jumlah besar. Berfungsi untuk memindahkan kekuatan udara ke dalam armada angkatan laut sebagai pendukung operasi angkatan laut. Dalam banyak operasi militer, dari kapal induk inilah komando operasi dikendalikan.

Pada awal kesertaanya dalam dunia militer, kapal induk pertama kali dioperasikan oleh angkatan laut kerajaan Inggris. Negara yang selama beberapa abad menguasai hampir semua sisi samudera di dunia. Sesuai dengan semboyan mereka, Britain Rules The Wave, Inggris yang mengendalikan gelombang. Tapi pada awal sejarahnya hingga pada kancah perang dunia pertama, kapal induk belum digunakan secara optimal atau unggulan oleh banyak negara adikuasa pada masa itu, termasuk Inggris.

Angkatan laut Jepang (Kaigun) adalah kekuatan militer yang berhasil pertama kali menggunakan kapal induk untuk mendukung sebuah serangan militer. Itu terjadi pada serangan Pearl Harbour yang terkenal itu. Sebuah moment yang telah jadi pemicu perang dunia kedua. Salah satu kapal induk Jepang yang terkenal pada waktu itu adalah Akagi. Kapal yang pertama kali aktif di jajaran angkatan laut Jepang pada tahun 1927 ini memiliki bobot hingga 30.000 ton. Panjangnya 234 meter serta mampu mengangkut 60 pesawat tempur dan 1.600 awak.

Belajar dari keberhasilan Jepang pada serangan itu, telah membuat negara-negara barat menyadari bahwa kapal induk bisa dijadikan sebagai alat perang yang sangat mematikan. Semula mereka lebih mengandalkan jenis kapal jelajah, kapal perusak, dan tentunya kapal selam juga. Kapal induk masih dinilai rentan terhadap serangan udara musuh. Sejak menghadapi kekalahan pahit di Pearl Harbour itu, Amerika dan sekutunya mulai mengoptimalkan kekuatan benteng terapung ini.

Pertempuran antar kapal induk pertama kali terjadi di laut Coral, sebuah kawasan di Samudera Pasifik. Angkatan laut Amerika berhadapan dengan angkatan laut Jepang. Pertempuran ini mengakibatkan Amerika kehilangan satu kapal induknya, Lexington, dan beberapa kapal lainnya. Sementara Jepang juga kehilangan kapal induknya yang bernama Shoho, sebuah kapal induk kelas ringan. Pertempuran laut yang dahsyat serta melibatkan beberapa kapal induk itu adalah untuk memperebutkan pangkalan laut Port Moresby.

Dalam perkembangan berikutnya, beberapa negara maju mulai membuat kapal induk yang lebih besar dan lebih canggih. Orang pun mulai membagi jenis kapal induk. Misalnya dari jenis bahan bakar yang digunakan untuk menggerakan kapal, terbagi menjadi dua, yaitu kapal induk nuklir dan kapal induk konvesional. Beberapa kapal induk yang menggunakan tenaga nuklir milsanya USS Enterprise (AS), USS Abraham Lincoln (AS), USS Dwight D. Eissenhower (AS), dan Charles de Gaulle (Perancis). Sedangkan kapal induk konvensional (bertenaga diesel) misalnya Giuseppe Garibaldi milik (Italia), RTN Chakkri Narrubet (Thailand), Admiral Kuznetsov (Rusia), dan Karel Doorman (Belanda).

Karena kapal ini juga menjadi pangkalan udara militer, maka menurut jenis landasan terbangnya kapal induk juga dibagi menjadi 2 jenis. Yaitu :

Kapal Induk Konvensional (CTOL)

Kapal induk jenis ini memiliki landasan terbang dengan metode Conventional Take Off Landing (CTOL) atau landasan terbang yang hampir mirip landasan pesawat terbang konvensional. Kapal induk jenis ini biasanya memiliki ukuran yang sangat besar karena geladakanya digunakan sebagai tempat peluncuran ataupun pendaratan pesawat secara konvensional. Karena landasan terbangnya lebih sempit dibanding landasan terbang yang biasa dibangun di darat makan pada landasan itu juga dilengkapi dengan catapult (ketapel) untuk peluncuran dan kabel arrester untuk membantu menahan pesawat yang sedang mendarat (landing). Kapal induk jenis ini misalnya 25 de Mayo (Argentina), Charles de Gaulle (Perancis), dan USS Ronald Reagen (Amerika).

Kapal Induk STOVL (Short Take Off Vertical Landing)

Kapal induk jenis ini dimasukkan sebagai kapal induk berukuran ringan atau sedang. Lebih kecil dibanding kapal induk konvensional seperti disebut terdahulu. Biasanya dilengkapi dengan sky jump yang berguna untuk peluncuran pesawat. Sedangkan untuk pendaratan pesawat dilakukan secara vertikal. Oleh sebab itu kapal induk jenis ini hanya mengangkut pesawat tempur jenis tertentu. Misalnya helikopter AV-8 Harrier, Harrier II Plus, dan YAK 141 Freehand. Kapal induk STOVL inilah yang banyak digunakan karena biaya pembuatan atau perawatannya lebih ringan dibanding kapal induk jenis CTOL yang ukurannya lebih besar. Contoh kapal induk STOVL misalnya RTN Chakkri Narrubet (Thailand), Virrat dan Vikrant (India), HMS Invincible dan HMS Ark Royal (Inggris), Guiseppe Garibaldi (Italia), dan Novorossysk (Rusia).

USS Tripoli

dan buatan indonesia dari PT.PAL

http://royskots.wordpress.com/2010/05/22/kapal-induk-carrier-vessel/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,100 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: