Kebutuhan Negara akan Regionalisme

Regionalisme adalah salah satu konsep yang dibahas dalam kajian Hubungan Internasional. Di antara pakar, ada silang pendapat tentang definisi konsep ini. Joseph S. Jr Nye, salah seorang teoritisi menyebut bahwa konsep ini bersifat ambiguous. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pembagian kawasan/region yang didasarkan pada aspek keamanan mungkin dapat berbeda dari kawasan/region ekonomi.

Beberapa teoritisi lain mengklasifikasikan suatu kawasan dalam lima karakteristik. Pertama, Negara-negara yang tergabung dalam suatu kawasan memiliki kedekatan geografis. Kedua, mereka memiliki pula kemiripan sosio kultural. Ketiga, terdapatnya kemiripan sikap dan tindakan politik seperti yang tercermin dalam organisasi internasional. Keempat, kesamaan keanggotaan dalam organisasi internasional. Dan kelima, adanya ketergantungan ekonomi yang diukur dari perdagangan luar negeri sebagai bagian dari proporsi pendapatan nasional.

Pendapat lain dikemukakan oleh Louis Cantori dan Steven Spiegel. Keduanya mendefinisikan kawasan sebagai dua atau lebih Negara yang saling berinteraksi dan memiliki kedekatan geografis, kesamaan etnis, bahasa, budaya, keterikatan social dan sejarah dan perasaan identitas yang seringkali meningkat disebabkan adanya aksi dan tindakan dari negara-negara luar kawasan.[2]

Keuntungan yang diperoleh dari adanya konsep regionalisme ini salah satunya adalah dengan adanya perdagangan bebas (free trade areas). Dengan perdagangan bebas, maka sebuah negara akan mendapatkan kemudahan, termasuk dalam masalah tarif masuk. Sebagai contoh, bisa dilihat dari negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa (Eropean Union), SACU, MESCOSUR, CARICOM di Karibia, Andean, dan Pasar Bersama Amerika Tengah (Central American Common Market).[3] Begitu juga pada 1992, negara-negara Visegrad (Polandia, Hongaria, Republik Chechnya, da Slovakia) membentuk Wilayah Perdagangan Bebas Eropa Tengah (Central Europen Free Trade Area) dan pada 1994 menunjukkan kemajuan yang pesat.[4]

Sheila Page dalam Regionalism among Development Countries, membahas beberapa contoh dalam anggota dalam sebuah region/kawasan. Beberapa region yang dibahas olehnya adalah: Europen Union (Uni Eropa), NAFTA (North Atlantic Free Trade Area), MESCOSUR (Southern Cone Common Market), Andean Group, Group of Three (Columbia, Mexico, dan Venezuela), Central America Common Market (CACM), CARICOM (Carribean Community), Latin America Integration Agreement (LAIA), Free Trade Area of the America (FTAA), Southern African Development Community (SADC), Southern African Costums Union (SACU), African Economic Community (AEC), Asean Free Trade Arrangement (AFTA), Australia-New Zealand Closer Economic Relations Trade Agreement (ANZCERTA), South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC), dan Asia Pasific Economic Cooperation (APEC).

[1] Resume bacaan awal untuk mata kuliah Teori Studi Kawasan, S2 UI.

[2] Dr. Anak Agung Banyu Perwita & Dr. Yanyan Mochamad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005, hal.103-104

[3] Sheila Page, Regionalism among Developing Countries, Overseas Development Institute, 2000, hal. 14

[4] Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia (terj.), Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2007, hal. 229.

Oleh Yanuardi Syukur : http://yankoer.multiply.com/journal/item/244/Kebutuhan_Negara_akan_Regionalisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,100 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: