Regifauzi’s Journal : Balada Sang Sampah

“aku dilahirkan di sebuah tempat yang penuh dengan mesin – mesin”

“aku tidak tahu apa aku sebenarnya sampai aku melihat diriku dan saudara – saudaraku di bariskan ke sebuah tempat”

“aku ternyata bertugas untuk membawakan sebuah cairan yang bergelembung itu”

“saudara – saudaraku semua sudah diisi oleh cairan tersebut dan dibawa ke tempat lain dan sekarang giliranku”

“aku bangga setidaknya aku bisa berguna walau hanya menampung cairan yang mereka sebut ‘soda’ itu”

“setelah aku diisi akupun di masukkan ke dalam sebuah kotak bersama saudaraku yang lain”

“setelah itu aku dibawa ke tempat gelap, sepertinya itu mesin yang bisa berjalan karena ketika sepertinya suara berisik di belakangku memudar”

“setelah berhenti kami dibawa dan diletakkan di rak – rak pendingin yang teramat dingin tapi aku takkan menyerah”

“lama sekali aku menunggu di rak ini sampai akhirnya ada ‘manusia’ yang membawaku”

“ia membukaku keras sekali sampai aku mendengar bunyi patahan ‘krek’ di tubuhku”

“manusia itu meminum cairan ‘soda’ itu sampai habis”

“tapi aku bangga akhirnya tugasku selesai”

“tapi sepertinya ada yang salah”

“aku dilempar ke tempat yang gelap dan lembab dan kotor”

“ketika aku melihat sebuah tulisan tempat ini disebut ‘tempat sampah'”

“aku tidak mengerti, seharusnya aku bersama saudaraku yang lain kembali ke ‘rumah’ tempatku berada dan dilahirkan”

“aku berusaha lari namun sebuah mesin beroda melindas tubuhku dengan kencangnya hingga tubuhku terasa sakit sekali”

“aku berusaha lari namun ada manusia lain yang melemparku ke sebuah ‘tempat sampah’ berjalan, sepertinya sama seperti yang dulu dirumah dan yang melindasku”

“aku dilemparkan lagi kesebuah gunung yang ternyata saudaraku dan teman temanku semua di tumpuk disana”

“aku merasa pusing dan bingung”

“apakah ini balas jasa kami? terbuang begitu saja?”

“begitu menyedihkan ketika aku akhirnya sampai di tempat itu dan melihat sekelilingku”

“begitu banyak saudaraku yang tergeletak dan tercabik-cabik disana”

“aku pun melihat sebuah mesin yang memakan kami para ‘sampah'”

“kukira disitulah mungkin aku akan hancur”

“dan perkiraan ku benar aku di bawa kesana”

“mungkin aku hanya ‘sampah’ namun bukankah kami, aku dan saudaraku mendapat perhatian yang lebih layak?”

“aku sangat yakin aku membawa sertifikat recycle di tubuhku tapi kenapa aku berakhir disini?”

“aku sedih kami hanya dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna padahal kami masih bisa berguna…”

“………….”

R.Fauzi

1 Komentar (+add yours?)

  1. Ma Sang Ji / 마상지
    Apr 07, 2011 @ 23:39:12

    Kotoran dan sampah bagaikan pencak silat di lapangan olahraga.
    Tergantung pada kemauan dan kemampuan kitalah bagaimana pemakaiannya.
    Untuk bela diri… ataukah bunuh diri:
    http://menangislah.wordpress.com/2011/03/29/manfaatkan-silat-majukan-sepakbola-indonesia/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,345 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: