Diplomasi: Usaha-Usaha dan Kegagalan Dalam Usaha Menjaga Perdamaian

PENDAHULUAN

Perjanjian Versailles ditandatangani sebagai kesepakatan bersama untuk mengakhiri perang dunia I. Versailles merupakan buah pikir negara pemenang perang seperti Perancis, Italia, Inggris, Amerika. Dengan absenya Rusia karena pergolakan internal pasca perang dunia I, tidak mencegah perjanjian Versailles menjelma menjadi semacam legitimasi kejahatan perang yang dibebankan pada Jerman.

Versailles membuahkan beberapa istilah yang kemudian lazim dikenal dengan war guilt, mandatory system, dan self determination. Selain itu, Versailles menandai terb itnya ide-ide Wilsonian yang tertuang dalam keempat belas poinnya. Di antara keempat belas poin tersebut tersirat kebutuhan vital terhadap institusi internasional. inilah yang menjadi platform fundamental pendirian Liga Bangsa-bangsa. Diharapkan LBB sanggup meletakkan semua negara dalam posisi sejajar di kancah internasional.

SELF DETERMINATION

Self determinasi terkandung hak sekelompok bangsa untuk memerintah dirinya sendiri dengan berdasarkan pada kedaulatan terhadap teritorial masing-masing (Carruthers, 56: 2002). Munculnya beberapa negara baru seperti Yugoslavia-Herzegovina, Serbia Montenegro, Austria, Hungaria, Czechoslovakia, Romania, Polandia merupakan dampak pengakuan self determinasi. Self determinasi memperoleh legitimasi secara politis melalui empat belas nilai-nilai Wilsonian.

Self determinasi menjadi perayaan legitimasi secara teritorial beberapa negara yang sebelumnya bahkan tidak pernah “eksis”. Sayangnya mereka tidak dibekali aparatur pemerintahan yang sempurna. Seolah-olah mereka dibentuk dalam keterdesakan dan pemetaan politik yang terkesan dipaksakan guna memecah skala kekuatan besar (Jerman dan Austria-Hungary) menjadi skala kekuatan kecil.

Akibat dari self determinasi antara lain menempatkan Jerman seolah-olah dikepung oleh negara mikro yang powerless dan rentan. Sementara Austria-Hungary kehilangan kejayaannya layaknya Kekaisaran Roman Suci pada awal abad pertengahan lalu, negara-negara baru tersebut di atas menderita karena tidak dibekali dengan daya tahan ekonomi yang efisien guna menunjang kemajuan mereka.

Hadirnya revolusi Rusia “Bolsheviks” yang dimotori oleh Lenin seakan hendak menjanjikan pada dunia bahwa revolusinya merupakan titik awal revolusi dunia. Kenyataan faktual ketika Lenin memperkuat dirinya dengan federasi yang dibentuk di bawah panji Coomunist International (Comintern) membuat Perancis dan Inggris waspada. Inggris dan Perancis mencari-cari upaya untuk membetengi Lenin. Salah satunya adalah dengan menempatkan negara-negara baru dengan embel-embel self determination di ujung tombak. Suatu bonus jika negara-negara tersebut memiliki pandangan antikomunis.

Ketakutan Perancis dan Inggris sangat beralasan ketika mereka kemudian mendirikan aliansi guna membentengi kekuatan negara-negara di atas. Dalam hal ini self determinasi dan aliansi merupakan kedua hal sinergis menjelaskan kecemasan Inggris dan Perancis.

14 POIN WOODROW WILSON

Empat belas poin Woodrow Wilson diyakini merupakan serangkaian nilai-nilai idealis semata yang sulit diwujudkan dalam perspektif realis klasik. Walaupun demikian, pada masanya Wilson telah berhasil menyusun sejumlah nilai-nilai yang mesti dihargai oleh negara-negara dunia guna mencegah perang. Hal ini kemudian menjadi pondasi utama cikal bakal Liga Bangsa-bangsa.

Bentuk manifestasi nilai-nilai Wilson ini antara lain secara garis besar tertuang ke dalam self determinasi (hak untuk bebas menentukan nasib sendiri dan bebas intervensi asing), pengakuan batas-batas teritorial suatu negara berdasarkan nasionalitas masing-masing dan serta daerah kolonialnya, kebebasan mutlak navigasi laut (tidak lagi didominering oleh British), pengurangan angakatan bersenjata—no need for arm race, penghapusan batas-batas ekonomi, dan yang paling krusial adalah kebutuhan akan adanya institusi nasional sebagai asosiasi terbuka bagi negara-negara.

DAMPAK DEPRESI EKONOMI AMERIKA 1929-1933
Era “Conservative Internationalism” dan pinjaman-pinjaman asing AS dan German reparations

Setelah Presiden Woodrow Wilson mangkat dan digantikan oleh Warren Harding pada pemilu tahun 1920, kebijakan luar negeri Amerika mendapat angin baru. Berbeda dengan Woodrow Wilson yang sanggup memposisikan kebijakan luar negeri Amerika secara signifikan aktif dalam hubungan internasional, Warren Harding hanya mampu sedikit peduli pada urusan luar negeri. Sisa kepeduliannya terhadap dunia internasional tercermin pada penunjukan sekelompok individu yang benar memiliki perhatian terhadap permasalahan internasional. Rumusan kebijakan luar negeri AS berikut kegiatan diplomasi dan negosiasi internasionalnya diserahkan sepenuhnya kepada kabinet papan atasnya. Sebagian besar kebijakan luar negeri diterjemahkan ke dalam era conservative internationalism.

Conservative internationalism mengandung pengertian hubungan luar negeri AS yang didasarkan pada kepentingan nasional dengan prioritas utama kekuatan militer, dan ekonomi perdagangan pada prioritas selanjutnya disertai keyakinan bahwa pola hubungan internasional banyak diarahkan oleh negara sebagai aktor tunggal.

Pinjaman luar negeri amerika berkaitan erat dengan German reparation. Berasal dari isi perjanjian Versailles yang melegitimasi beban perang dan hutang Inggris-Perancis. Pembayaran Jerman kepada Inggris-Perancis ini secara khusus diatur oleh lembaga yang disebut reparation commision. Jerman dikenai sangsi wajib melakukan pembayaran kepada Inggris-Perancis sebesar 5 juta emas Amerika setiap tahunnya dengan pembayaran sekali setiap semester.

Sistem di atas bertahan hanya selama dua tahun. Jerman menolak kenaikan bunga akibat beban tagihan, dan lebih memilih untuk mencetak uang sendiri. Akibatnya Jerman dilanda inflasi, menyebabkan tabungan orang-orang kelas atas Jerman seketika ludes. Hal ini justru memperparah kondisi perekonomiannya. Sehingga pembayaran Jerman terhadap Inggris-Perancis menunggak. Pembayaran hutang Jerman yang menunggak mengakibatkan Perancis bereaksi dengan mengirim tentaranlya untuk menduduki basis industri Jerman di Ruhr.

Inggris menilai pendudukan Perancis di Ruhr merupakan suatu kesalahan seolah sengaja memprovokasi perang baru. Padahal saat itu kubu pemenang secara ekonomi telah bobrok, bahkan untuk berperang pun sangat tidak masuk akal.

Seakan suatu siklus yang tidak ada kepala dan ekornya, di sisi lain AS melihat kegagalan pembayaran oleh Jerman merupakan kegagalan lain di pihak Inggris-Perancis untuk melunasi hutang-hutangnya pada Amerika. Melihat kepentingan tersebut, AS melalui Dawes Plan menawarkan jalan keluar bagi Jerman dengan kemudahan pembayaran. Hasilnya, melalui negosiasi oleh Charles G Dawes, ketua komisi reparasi yang baru, pembayaran Jerman kepada Inggris-Perancis disetujui berkurang 2.5 juta yang dibayar dengan jangka waktu lima puluh tahun ke depan, dan Perancis pun bersedia menarik pasukannya dari Ruhr.

Seketika lima tahun mendatang, industri Jerman mengalami peningkatan dan penduduknya kembali bekerja. Tentu saja secara “diam-diam”, AS mempelopori peminjaman besar-besaran pada Jerman. Hal ini tidak lepas dari rasa kecewa perbankan AS—motif ekonomi lelah karena Inggris-Perancis memiliki hutang terus menerus AS; mereka tidak merasa menyesal untuk menyumbang demi kebangkitan ekonomi industri Jerman. Oleh karena itu, kebangkitan ekonomi Jerman memiliki korelasi kuat dengan sejumlah pinjaman-pinjaman asing AS.
The Washington Conference and Peace plan

Konferensi Washington merupakan strategi konservatif internasionalisme AS. HOW???

Konferensi Washington merupakan konferensi pertama mengenai pengurangan kompetisi senjata berkaitan dengan navigasi laut di Pasifik. Konferensi ini merupakan momen bertemunya perwakilan-perwakilan sembilan negara dengan kepentingan yang sama di Pasifik. Konferensi yang diadakan pada November 1921 dan Februari 1922 ini menyepakati perihal penetapan rasio kekuatan armada masing-masing pada skala tertentu sekaligus pengakuan terhadap teritorial lautnya. Pembatasan angkatan laut ini ditandai sebagai langkah pertama pengurangan angkatan bersenjata (disarmament).

Sementara negara-negara besar berhasil menggalakkan kampanye pengurangan angkatan bersenjata, selain dinilai pemborosan dan sia-sia—asumsi tidak ada perang lagi yang mungkin meletus ; di sisi lain pada 1933 ketika Adolf Hitler berkuasa, ia segera merancang proposal kebangkitan angkatan bersenjata Jerman.

by Renny Candradewi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,100 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: