Neorealisme dan Neoliberalisme : Dua Pendekatan Yang Saling Mendekati

Disiplin ilmu hubungan internasional dibangun atas beberapa teori yang sempat berkembang. Perdebatan-perdebatan mengenai teori dan pendekatan mana yang lebih cocok digunakan untuk menjelaskan konstelasi sistem internasional sering kali tersaji seiring berjalannya waktu dan berubahnya tatanan sistem internasional. Dua pendekatan dan teori yang paling populer sepanjang sejarah disiplin ilmu hubungan internasional yang pernah ada adalah realisme dan liberalisme. Keduanya memiliki perspektif yang kontradiktif dalam melihat konstelasi sistem internasional. Realisme dibangun atas asumsi dasar tentang manusia dan negara yang bersifat jahat dan akan selalu ingin mencapai kekuasaan atas yang lain, sedangkan liberalisme dibangun atas asumsi dasar tentang manusia dan negara yang selalu dapat bertindak rasional sehingga akan dicapai suatu kerjasama yang kolaboratif. Jika realisme memandang negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional, maka liberalisme memandang bahwa dalam hubungan internasional juga terdapat individu, swasta, dan institusi atau organisasi internasional sehingga dalam pandangan kaum liberalis merekalah aktor dalam hubungan internasional.

Perdebatan antara realisme dan liberalisme terus berlangsung sampai pasca perang dunia 2 ketika keadaan tatanan dunia mulai berubah sampai pada akhirnya masuk pada era perang dingin. Perang dunia 2 yang telah membawa kehancuran yang hebat itu membawa perdebatan klasik ke dalam tahap perdebatan baru. Perspektif realisme dan liberalisme juga telah bertransformasi dikarenakan pengaruh kaum behavioralis yang berpendapat bahwa hubungan internasional pun merupakan sesuatu yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan didukung oleh data-data empiris yang tersaji di lapangan. Pandangan positivis ini membawa realisme dan liberalisme ke dalam bentuk pendekatan yang baru yang kemudian dikenal sebagai neorealisme dan neoliberalisme (Jackson & Sorensen, 1999). Keduanya dibangun dengan asumsi dasar yang masih sama dengan pendekatan realisme dan liberalisme klasik, namun pada neorealisme dan neoliberalisme terjadi “pengakuan” satu sama lain dalam beberapa hal yang menyebabkan perspektif mereka seolah-olah “berdekatan.” Walaupun keduanya mulai berdekatan, keduanya masih memilik perbedaan yang kemudian menjadi sebuah perdebatan diantara keduanya. Dalam tulisan ini akan dibahas beberapa aspek yang menjadi perbedaan dan perdebatan antara perspektif neorealisme dan neoliberalisme.

Aktor Hubungan Internasional
Salah satu aspek yang menjadi perdebatan antara realisme dan liberalisme klasik adalah mengenai aktor hubungan internasional. Secara garis besar realisme memandang negara sebagai satu-satunya aktor yang paling dominan dalam hubunga internasional, sedangkan liberalisme memandang bahwa dalam hubungan internasional juga terdapat individu, swasta, dan institusi atau organisasi internasional sehingga dalam pandangan kaum liberalis merekalah aktor dalam hubungan internasional. Namun pandangan ini berubah seiring dengan adanya revolusi dari kaum behavioralis yang menyatakan bahwa hubungan internasional adalah sesuatu yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan adanya data-data yang ada. Perubahan ini semakin diperkuat dengan berubahnya tatanan dunia pasca perang dunia dan mulainya perang dingin. Munculnya beberapa organisasi pasca perang dingin turut mempengaruhi pandangan neorealisme dan neoliberalisme dalam memandang aktor hubungan internasional. Neorealisme tetap memandang negara sebagai aktor paling penting . Hal ini sangat mudah dijelaskan oleh kaum neoralis, dengan melihat aktor yang sangat dominan pada masa perang dingin adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet. Isu yang sering dibawa oleh kaum neorealis seputar konflik dan perang yang terjadii diantara negara membawa kesimpulan bagi kaum neorealis bahwa negara merupakan aktor paling dominan dan penting dalam hubungan internasional (Beitz, 1979). Namun, hal ini tidak berarti bahwa neoralisme hirau akan adanya non-state actor seperti organisasi dan institusi internasional. Neorealisme tetap memandang eksistensi organisasi dan institusi internasional sebagai aktor penting namun bukan berarti sebagai aktor yang dominan karena dibalik mereka masih ada negara yang merupakan aktor paling dominan dalam hubungan internasional karena hanya negaralah yang memiliki kedaulatan.

Neoliberalisme berpandangan kontradiktif, menganggap bahwa dengan semakin banyaknya organisasi dan institusi internasional menandakan bahwa merekalah aktor hubungan internasional. Peran mereka yang begitu penting bahkan membuat mereka memiliki peran melebihi peran yang dimiliki oleh negara. Neoliberalisme juga tidak serta merta menyangkal adanya negara sebagai aktor hubungan internasional. Negara tetap dianggap sebagai aktor penting namun dalam era kontemporer peran organisasi dan institusi jauh lebih besar dari pada negara dan tidak dapat dipungkiri jika negara sangat membutuhkan kehadiran organisasi dan institusi internasional. Salah satu pandangan kaum neoliberal, dikemukan salah satunya oleh James Rosenau, mengemukakan bahwa hubungan internasional tidak hanya hubungan antar negara saja, melainkan di dalamnya terdapat individu yang secara signifikan terlibat dalam interaksinya (Jackson & Sorensen, 1999). Komunikasi juga terlihat dari adanya interaksi dengan kelompok masyarakat swasta. Hubungan antara negara, individu, dan kelompok masyarakat swasta yang saling tumpang tindih dan menjadi kooperatif ini dikenal dengan jaring laba-laba. Dengan meluasnya hubungan transnasional ini akan membawa kehidupan yang lebih damai.

Relative Gain versus Absolute Gain
Institusi dan organisasi internasional dianggap sebagai suatu elemen penting dalam hubungan internasional baik oleh neorealis dan neoliberalis. Institusi dan organisasi diciptakan untuk mengakomodasi negara-negara dan aktor-aktor lainnya untuk bekerjasama. Namun, neorealisme dan neoliberalisme memiliki perspektif yang berbeda dalam kerjasama yang terjalin. Dalam perspektif neorealisme, eksistensi institusi dan organisasi internasional diakui. Neorelaisme tidak menyangkal semua kemungkinan bagi kerjasama antar negara. namun, mereka berpendapat bahwa negara akan selalu berusaha memaksimalkan kekuatan relatif dan mempertahankan otonominya (Jackson & Sorensen, 1999). Pemaksimalan kekuatan relatif ini dikarenakan masing masing negara memiliki kapabilitas dan kapasitas yang berbeda daam hal power. Perbedaan kapabilitas dari negara-negara membentuk sebuah struktur yang hirarkis dalam tatanan dunia yang anarkis (Donnelly, 2005). Adanya perbedaan kapabilitas kekuatan menempatkan mereka dalam keadaan selalu cemas. Ketika mereka selalu cemas dengan negara lain yang memiliki kekuatan yang berbeda, maka mereka akan membuat kesepakatan-kesepakatan yang dapat digunakan untuk meredam kecemasan dan ketakutan. Perbedaan kapasitas dan kapabilitas kekuatan yang dimiliki masing-masing negara tentu saja tidak bisa menghasilkan suatu kesepakatan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak. Ada salah satu pihak yang akan lebih diuntungkan karena memiliki power lebih besar. Hal ini lah yang disebut dengan relative gains.

Relative gains menurut neorealis ini kemudian dibantah oleh kaum neoliberalis yang beranggapan bahwa kerjasama dan interaksi antar negara yang terjadi akan memberikan keuntungan bagi semua piha yang terlibat. Inilah yang disebur dengan absolute gains. Negara akan memaksimalkan kerjasama untuk mencapai keamanan serta kemakmuran (Burchill, 2005). Adanya interdependensi kompleks membuat negara-negara membutuhkan wadah untuk menyelesaikan segala bentuk permasalahan mereka. Liberalisme institusional menerangkan hal tersebut, bagaimana sebuah institusi atau organisasi dapat menjadi aktor hubungan internasional. Kerjasama tersebut dapat dan selayaknya disandarkan pada sebuah institusi/organisasi (Burchill, 2005). Institusi/organisasi internasional diyakini mampu menjembatani masalah internasional dan kemudian menyelesaikannya. Penyelesaian masalah ini didasari adanya rasa yang berkenaan dengan ketakutan, ketidakpercayaan, dan kecemasan antar negara. Dengan demikian hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dapat tercapai dan absolute gain terpenuhi.

Agenda dan Survivalitas
Perbedaan perspektif akan proses dan hasil yang diperoleh dalam kerjasama menurut neorealisme dan neoliberalisme juga membawa perbedaan terhadap isu dan agenda yang diperjuangkan oleh keduanya. Dengan adanya perbedaan kapabilitas kekuatan dan adanya kecemasan diantara negara-negara, maka kerjasama yang terjadi adalah kerjasama untuk mengurangi kecemasan tersebut dan menyeimbangkan kekuatan demi tercapainya suatu keamanan dunia dan terjaganya eksistensi negara. Isu-isu keamanan menjadi hal sering kali dibahas oleh para neorealis dalam mencapai sebuah perdamaian. Negara-negara akan beraliansi sebagai reaksi atas perbedaan kapabilitas kekuatan untuk mereduksi kecemasan yang ada diantara mereka (Donnelly, 2005). Isu lain yang paling populer adalah tentang kelebihan sistem bipolar dalam menjaga perdamaian dunia daripada sistem multipolar yang dijabarkan secara luas oleh Mearsheimer. Ada beberapa alasan mengapa sistem bipolar dianggap baik dalam menjaga stabilitas dan keamanan dunia (Jackson & Sorensen, 1999). Pertama, jumlah konflik negara-negara dengan kekuatan besar lebih sedikit, dan hal itu akan mengurangi kemungkinan perang negara-negara kekuatan besar. Kedua, penangkalan yang efektif akan lebih mudah dilakukan karena negara-negara besar yang terlibat akan lebih sedikit. Terakhir, kesalahan perhitungan dan pengambilan tindakan dapat diminimalisir karena hanya ada dua kekuatan besar yang mendominasi sistem tersebut.

Dalam perspektif neoliberalisme, stabilitas dan perdamaian dunia dicapai dengan cara yang berbeda. Konflik antar negara dapat direduksi dengan menciptakan kepentingan bersama dalam bidang ekonomi dan perdangangan (Burchill, 2005). Kerjasama yang diakomodasi oleh institusi dan organisasi internasional yang menitikberatkan pada perdagangan merupakan bentuk dari adanya interdependensi internasional. Interdependensi internasional ini kemudian tercermin oleh adanya transaksi global yang melintasi batas negara, contohnya perdagangan dan investasi asing (Beitz, 1979). Dengan demikian, perspektif neoliberalisme menjunjung tinggi adanya kerjasama dalam bidang ekonomi dan perdangangan. Perdagangan dan kerjasama ekonomi ini merupakan refleksi dari absolute gains dari para aktor-aktornya untuk mendapatkan perdamaian yang abadi. Agenda lain dari kaum neoliberalis sebagai upaya mencapai perdamaian dunia adalah dengan adanya demokratisasi sistem negara. Kemenangan AS atas Uni Soviet dalam perang dingin membawa perubahan pada negara-negara pada sistem internasional. Negara-negara yang ada pada sistem internasional kebanyakan menganut sistem demokrasi. Neoliberalisme percaya bahwa sesama negara demokrasi tidak akan melakukan peperangan (Jackson & Sorensen, 1999). Hal ini dikarenakan budaya domestik mereka dalam menyelesaikan permasalahan selalu menjunjung tinggi demokrasi dan musyawarah yang merupakan jalan damai. Dengan demikian apabila ada permasalahan internasional yang melibatkan banyak negara demokrasi, maka nilai-nilai dasar demokrasi lah yang pertama kali diterapkan sehingga tetap menjunjung tinggi perdamaian.

Melihat penjelasan di atas dapat ditarik benang merah bahwa antara neorealisme dan neoliberalisme terdapat beberapa hal yang bedekatan antara keduanya. Adanya pengakuan mengenai negara sebagai state actor dan organisasi, institusi, dan individu sebagai non-state actor membuat perbedaan antara neorealisme dan neoliberalisme tidak terlalu kontras layaknya perbedaan antara realisme dan liberalisme klasik. Perbedaan keduanya hanya terletak pada tingkat signifikansi masing-masing aktor menurut sudut pandang masing-masing pendekatan. Persamaan persepsi akan pentingnya kerjasama juga mencerminkan bahwa kedua teori ini sudah saling “mendekati”, yang membuatnya berbeda hanyalah proses dan hasil yang akan diperoleh kemudian yang dijelaskan oleh masing-masing pendekatan. Dengan adanya perbedaan pada proses dan hasil, membuat keduanya memiliki pandangan yang berbeda mengenai agenda dan survivalitas dalam rangka mencapai perdamaian dunia. Adanya persamaan persepsi dalam beberapa hal menjadikan neorealisme dan neoliberalisme sebagai dua pendekata yang saling mendekati.

Referensi

Beitz, Charles R. 1979. Political Theory and International Relations. New Jersey: Princeton University Press.
Donnelly, J., & Burchill, S. 2005. Theories of International Relations. New York: Palgrave Macmillan.
Jackson, R., & Sorensen, G. 1999. Pengantar Studi Hubungan Internasional. New York: Oxford University Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,100 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: