Sejarah Islam di Jepang

Tidak ada catatan yang jelas maupun jejak sejarah yang jelas mengenai kontak antara Islam dan Jepang serta kapan persisnya Islam masuk ke Jepang. Tapi setidaknya dapat diketahui bahwa Islam masuk ke Jepang melalui penyebaran ide/pemikiran religius dari Barat (Western) pada tahun 1877. Pada masa itu kisah hidup Nabi Muhammad SAW diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Hal ini menyebabkan Islam mampu hadir dan diterima di tengah kalangan intelektual Jepang, walaupun Islam pada saat itu hanya dipandang sebagai sebentuk pengetahuan serta bagian dari sejarah budaya. Kontak lain yang juga tidak kalah penting adalah ketika Turki Ottoman mengirimkan utusan berupa armada angkatan lautnya ke Jepang pada tahun 1890. Tujuan dari misi diplomatic ini adalah untuk menjalin hubungan antara dua negara dan untuk saling mengenal satu sama lain. Armada angkatan laut ini dinamakan “Ertugrul”. Armada ini kemudian terbalik dan kandas di tengah perjalanan pulangnya.

Dari 600 (enam ratus) penumpang, hanya 69 (enam puluh sembilan) yang selamat. Pemerintah maupun rakyat Jepang bersama-sama berusaha menolong para penumpang yang selamat dan mengadakan upacara penghormatan bagi arwah penumpang yang meninggal dunia. Mereka yang selamat, akhirnya dapat kembali ke negara mereka berkat sumbangan yang berhasil dikumpulkan dari seluruh rakyat Jepang. Peristiwa ini menjadi pencetus dikirimnya utusan pemerintah Turki ke Jepang pada tahun 1891 (seribu delapan ratus sembilan puluh satu). Hubungan yang sangat baik dengan Turki ini, juga membawa kemenangan bagi Jepang dalam peperangan dengan Rusia yang dimulai pada tahun 1904 (seribu sembilan ratus empat). Dikatakan, pada saat armada kapal kekaisaran Rusia melintasi laut Baltik, Turki memberitahukan hal tersebut kepada Jepang, dan karena itu, Jepang meraih kemenangannya. Orang Jepang yang pertama kali masuk Islam adalah Mitsutaro Takaoka yang menjadi Muslim tahun 1909 dan kemudian berganti nama menjadi Omar Yamaoka setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan sempat pula mengunjungi Bumpachiro Ariga, dimana di kota yang menjadi bagian dari negara India itu Omar Yamaoka sempat pula berdagang serta berkenalan dengan Islam secara lebih mendalam. Setelah cukup lama berinteraksi dengan masyarakat setempat, Yamaoka akhirnya mengganti namanya lagi menjadi Ahmad Ariga. Namun para peneliti juga menyatakan bahwa orang Jepang yang pertama kali masuk Islam bernama Torajiro Yamada. Yamada pernah mengunjungi negeri Turki sebagai bentuk rasa simpatinya atas kematian para personel armada angkatan laut Turki yang pernah mengunjungi Jepang. Yamada kemudian memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Khalil. Untuk menyempurnakan Rukun Islamnya, Abdul Khalil pun menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Kemunculan komunitas Muslim di Jepang dimulai sejak kedatangan ratusan pengungsi Muslim dari Turki, Uzbekistan, Tadjikistan, Kirghiztan, Kazakhtan, serta para pengungsi lain yang berasal dari Asia Tengah serta Rusia saat kebangkitan Revolusi Bolshevik selama Perang Dunia I. Orang-orang Muslim yang diberi Asylum (hak suaka) oleh pemerintah Jepang tinggal di beberapa kota utama di Jepang dan kemudian membentuk komunitas Muslim yang kecil. Sejumlah orang Jepang memeluk Islam setelah berinteraksi dengan komunitas Muslim tersebut. Dengan adanya komunitas Muslim yang kecil ini beberapa masjid berhasil dibangun. Masjid Kobe yang dibangun tahun 1935 serta Masjid Tokyo yang dibangun tahun 1938 merupakan masjid-masjid terpenting di Jepang. Satu hal yang perlu ditekankan di sini bahwa hanya sedikit Muslim Jepang yang dilibatkan dalam pembangunan masjid-masjid tersebut serta tidak ada satu pun Muslim Jepang yang menjadi Imam di tiap masjid tersebut.

Selama Perang Dunia II, sebuah “Islamic Boom” terjadi di Jepang. Trend ini dibawa oleh pemerintahan militer melalui berbagai macam organisasi serta research center yang concern ke kajian seputar Islam serta Muslim World. Dengan kata lain bahwa selama Perang Dunia II, terdapat lebih dari 100 buku serta jurnal kajian seputar Islam yang dipublikasikan di Jepang. Namun sayangnya berbagai macam organisasi serta research center yang tumbuh subur tersebut tidak berada di bawah control atau dikelola orang Islam sehingga para pengkaji Islam ini bisa memakai nama Islam untuk tujuan apapun. Padahal tujuan para pengkaji Islam ini semata-mata hanyalah untuk menjadikan militer Jepang mendapatkan pengetahuan yang dalam serta wawasan yang luas tentang Islam dan Muslim di negara-negara jajahan Jepang di China serta Asia Tenggara. Akibatnya, setelah Perang Dunia II berakhir tahun 1945, berbagai organisasi serta research center ini menghilang dengan cepat.

“yang lain terjadi akibat adanya “Arab Boom” setelah terjadinya peristiwa “oil shock” tahun 1973. Pada saat itu King Faisal menaikkan harga minyak sehingga negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat kelimpungan dan perekonomiannya sempat mengalami decline (kemerosotan). Media massa Jepang melakukan pemberitaan besar-besaran mengenai Muslim World secara umum dan Arab World secara khusus setelah menyadari pentingnya negara-negara Arab bagi ekonomi Jepang. Dengan adanya pemberitaan besar-besaran ini banyak orang Jepang yang sebelumnya tidak tahu apa-apa mengenai Islam mendapat kesempatan untuk mengenal Islam lewat tampilan suasana penyelenggaraan ibadah Haji di Mekah serta mendengar suara adzan dan bacaan Al-Quran. Di samping banyaknya upaya sungguh-sungguh untuk mempelajari Islam dan banyak yang memeluk Islam. Namun dengan berakhirnya efek oil shock, maka berakhir pula segala nostalgia ini. Ketertarikan orang-orang Jepang pada Islam menghilang secara cepat.Islamic Boom”

Menurut salah seorang Muslim Jepang, Nur Ad-Din Mori, beberapa tahun mendatang akan terjadi perkembangan Islam yang signifikan di Jepang. Hal ini ditandai dengan kembalinya lima pelajar Muslim ke Jepang setelah mereka menyelesaikan studinya tentang Islam di negara-negara Arab. Dua lulusan berasal dari Umm al-Qura University, Mekah, satu lulusan berasal dari Islamic University, Madinah, dan satu lagi berasal dari Dawa College, Tripoli dan terakhir berasal dari Qatar University. Meskipun para pelajar yang concern ke studi Islam ini jumlahnya tidak signifikan, namun hal itu sudah cukup bagus mengingat sebelumnya hanya ada enam pelajar yang concern ke Islamic Studies selama 20 tahun terakhir. Islam merupakan sebuah agama yang memberi penekanan pada pentingnya ilmu dan kita tidak dapat menegakkan Islam tanpa memahaminya (belajar). Nori merasa bahwa segenap upaya yang dilakukan untuk mengembangkan Islam di Jepang sekarang ini mengalami sedikit penurunan. Mori juga mengeluhkan permasalahan lain yang dihadapi oleh para Muslim di Jepang : hanya ada sedikit orang yang bisa memberi pengajaran tentang Islam kepada masayakat local dengan menggunakan bahasa Jepang. Sejarah dakwah di Jepang pada 14 tahun terakhir didasarkan pada upaya-upaya Muslim asing (orang-orang Muslim yang berasal dari luar Jepang) yang tinggal di Jepang. Mereka umumnya membentuk komunitas kecil serta menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keislaman di Jepang, sambil menuntut ilmu atau bekerja di Jepang.

Setelah Perang Dunia II, komunitas Muslim Turki merupakan komunitas terbesar di Jepang. Jepang pasca perang merupakan sebuah negara yang terkenal dengan simpatinya yang besar terhadap orang-orang Muslim yang berasal dari Asia Tengah, menganggap mereka sebagai sekutu Uni Soviet. Pada saat itu terdapat beberapa orang Jepang yang bekerja sebagai mata-mata yang mengadakan interaksi langsung dengan komunitas Muslim ini. Beberapa diantaranya terbuka matanya tentang Islam dan kemudian memeluk Islam setelah perang berakhir. Ada juga yang pergi ke Asia Tenggara seperti Malaysia sebagai tentara selama Perang Dunia II berlangsung. Ketika menembaki wilayah Malaysia dari udara, sang pilot Jepang ini menginstruksikan anak buahnya untuk mengucapkan kalimat Tauhid “Laa Ilaha illallohu”. Dan ketika mereka ditembak jatuh oleh tentara musuh di wilayah Malaysia, mereka melontarkan kalimat Tauhid agar diberi perlakuan yang baik oleh penduduk setempat. Dan memang mereka diberi perlakuan yang layak. Para tentara Jepang yang menetap di Malaysia ini akhirnya tetap menjaga kalimat Tauhid itu sampai sekarang. Mereka disebut Muslim generasi tua. Mereka menjadi sebuah kelompok minoritas Muslim Jepang pasca perang, dan hidup bersama-sama dengan komunitas-komunitas Muslim yang berasal dari negara lain, yang pada saat itu baru terbentuk. Secara umum, orang-orang Jepang pada saat itu mempunyai prasangka negative (prejudice) yang kuat terhadap Islam dan pengetahuan serta pemahaman mereka mengenai komunitas internasional amatlah terbatas. Sebagai contoh, dalam sebuah artikel yang dimuat di sebuah majalah tahun 1958, lima pilar Islam (rukun Islam) digambarkan dengan membuat judul “The Strange Customs of Mohammedans (Adat-Istiadat Muhammad yang Aneh)”

Orang-orang Jepang memiliki sebuah stereotip terhadap citra Islam sebagai sebuah agama aneh yang berasal dari negara-negara berkembang. Bahkan pada saat sekarang pun, meskipun telah dilakukan perbaikan, citra semcam ini belum bisa dihapus sepenuhnya. Beberapa tahun yang lalu, seorang penulis terkenal yang concern dalam bidang social mengatakan pada salah satu program acara TV bahwa Islam merupakan sebuah agama yang pengikutnya menyembah matahari.

Invasi Jepang terhadap China dan negara-negara Asia Tenggara selama Perang Dunia II menyebabkan orang-orang Jepang dapat berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Orang-orang Jepang yang memeluk Islam karena interaksinya dengan orang-orang Muslim di negara-negara yang mereka invasi menjadi komunitas yang mapan pada tahun 1953 dengan terbentuknya organisasi Muslim Jepang yang pertama kali yakni Japan Muslim Association di bawah kepemimpinan almarhum Sadiq Imaizumi. Anggota-anggotanya yang pada saat pengukuhan berjumlah 65 orang bertambah menjadi dua kali lipat sebelum Sadiq Imaizumi meninggal. Presiden Japan Muslim Association adalah almarhum Umar Mita, seorang pemimpin yang penuh dedikasi. Mita merupakan tipikal Muslim generasi tua, yang belajar Islam dalam wilayah yang berada di bawah kekuasaan Jepang (wilayah invasi). Dia pada saat itu bekerja di perusahaan Perkeretapian Manshu, yang sebenarnya turut mengontrol wilayah yang diinvasi oleh Jepang yang berada di sebuah propinsi yang terletak di timur laut China. Melalui interaksinya dengan Muslim China, dia akhirnya yakin soal kebenaran Islam dan akhirnya memeluk Islam. Ketika dia kembali ke Jepang setelah perang berakhir, dia menunaikan ibadah Haji. Untuk pertama kalinya, Mita menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jepang agar sesuai dengan perspektif Muslim. Jadi hanya setelah Perang Dunia II-lah bisa dikatakan bahwa sebuah komunitas Muslim Jepang yang sejati telah benar-benar terbentuk. Terlepas dari sukses awalnya, untuk selanjutnya perkembangan Japan Muslim Association mengalami kesulitan merekrut anggota.

Walaupun banyak organisasi Islam yang didirikan sejak tahun 1900-an, masing-masing hanya memiliki sedikit anggota yang aktif. Tidak ada estimasi yang dapat dipercaya (ekurat) tentang populasi Muslim Jepang. Data yang menyatakan bahwa jumlah total Muslim Jepang adalah 30.000 orang terlalu dilebih-lebihkan. Beberapa orang menyatakan bahwa jumlah total populasi Muslim Jepang sebanyak hanya ada beberapa ratus orang. Mungkin ini merupakan jumlah Muslim Jepang yang benar-benar mempraktekkan Islam. Ketika diminta untuk memberikan estimasi mengenai jumlah Muslim Jepang yang sebenarnya, Abu Bakar Marimoto mengatakan bahwa total jumlah mereka seluruhnya seribu orang, jika kita tidak melakukan pengecualian terhadap mereka yang masuk Islam karena pernikahan dan mereka yang tidak mempraktekkan Islam dengan sungguh-sungguh, mungkin jumlahnya mencapai beberapa ribu orang.

Rupanya perkembangan yang tergolong lambat ini merupakan akibat dari lingkungan eksternal. Atmosfer agama tradisional Jepang dan kecenderungan pembangunan negara Jepang yang terlalu materialistic juga perlu dijadikan bahan pertimbangan mengapa perkembangan Islam di Jepang lambat. Terdapat perbeadan orientasi antara generasi Muslim Jepang yang lama dengan yang baru.

Bagi generasi Muslim Jepang yang lama, Islam disamakan dengan agama yang ada di Malaysia, Indonesia atau China dan yang lainnya. Namun bagi generasi Muslim Jepang yang baru, negara-negara Asia Tenggara dan Timur ini tidak terlalu menarik, karena orientasi mereka adalah Barat, dan mereka lebih dipengaruhi oleh Islam seperti yang ada di negara-negara Arab. Muslim Jepang generasi lama sudah pernah hidup berdampingan dengan Muslim non-Jepang dan hal ini merupakan sebuah contoh yang bagus akan adanya semangat persaudaraan. Namun di sisi lain kita tidak bisa menafikan adanya efek samping dari ini semua, yakni islam menjadi sesuatu yang asing bagi orang Jepang pada umumnya. Bagaimana bisa menaklukkan dinding penghalang ini merupakan sebuah persoalan yang harus dipecahkan. Hal ini merupakan tantangan yang harus dijawab oleh Muslim Jepang generasi baru. Ketika berkunjung ke negara-negara Muslim, pertanyaan yang selalu diajukan oleh audien adalah “Berapa persen orang Jepang yang Muslim dari seluruh total populasi?”.

Sejarah perkembangan Islam di Jepang menunjukkan bahwa terdapat gelombang orang-orang yang memeluk Islam. Faktanya, kampanye-kampanye religius yang sudah banyak dilakukan tidak terlalu banyak menuai sukses dalam menyebarkan “agama baru” ini. Data statistic mengindikasikan bahwa 80 % dari total populasi percaya pada Buddhism atau Shintoism dimana 0,7 % adalah penganut Nasrani. Hasil terakhir yang diperoleh berdasarkan polling yang dilakukan oleh majalah bulanan Jepang menyatakan bahwa terdapat sebuah gelombang protes yang penting seputar keberadaan agama. Hanya satu dari empat orang Jepang percaya akan dogma-dogma agama. Kurangnya kepercayaan terhadap dogma-dogma agama umumnya terjadi pada kaum muda Jepang umur 20 tahun dengan angka mencapai 85 %. Para pelaku dakwah yang direpresentasikan oleh komunitas Muslim di Jepang dengan estimasi jumlah mereka sebanyak 100 ribu orang sendiri dirasa amat kecil jika dibandingkan dengan total populasi penduduk Jepang yang mencapai lebih dari 20 juta orang. Para pelajar dan mahasiswa bersama dengan para pekerja yang berada dalam situasi genting melakukan perluasan segmen komunitas mereka. Mereka terkonsentrasi di kota-kota besar seperi Hiroshima, Kyoto, Nagoya, Osaka dan Tokyo namun jarang yang terorganisir secara rapi dalam unit-unit yang mapan untuk melakukan program-program dakwah yang efektif. Faktanya, asosiasi para pelajar Muslim serta masyarakat local mengorganisir camp-camp secara periodic serta melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pemahaman bagaimana mengajarkan Isam secara benar dan tepat serta untuk memperkuat hubungan persaudaraan diantara sesama Muslim.

Tidak ada kelanjutan dari upaya-upaya untuk bertahan dengan situasi yang menuntut penyesuaian-penyesuaian bagaimana di satu sisi harus menjalani gaya hidup yang modern dan di sisi lain harus menyeru orang pada perbaikan jiwa agar tercipta keseimbangan hidup. Kesulitan-kesulitan yang kemudian dihadapi oleh orang-orang Muslim adalah dalam hal pengadaan fasilitas komunikasi, perumahan, pendidikan anak, atau makanan halal serta buku-buku Islam yang pada saat itu, tahun 1980-an masih sangat sulit. Dan hal ini merupakan factor-faktor tambahan yang menjadi penghalang bagi jalannya dakwah di Jepang. Kewajiban untuk berdakwah seringkali dirasakan sebagai kewajiban seorang Muslim untuk mengajarkan Islam kepada non-Muslim. Dan banyak Muslim yang merasa bahwa kegiatan mereformasi (islaah) serta memperbaharui (tajdid) itu amat diperlukan, sehingga otomatis hal tersebut juga mempengaruhi bentuk-bentuk dakwah yang dilakukan oleh komunitas-komunitas Muslim yang eksis di Jepang.

Sebuah kondisi yang menuju perbaikan serta kemajuan dalam hal pengetahuan Islam serta kehidupan (living condition) demi keberhasilan dakwah amat diperlukan di Jepang. Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa jika tindakan pengabaian serta ketidakpedulian oleh warga negara Jepang yang Muslim terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan jamaah dirubah, maka resiko yang harus ditanggung komunitas akan bisa diatasi dan dicairkan melalui distorsi keyakinan Islam yang amat hebat, yang terus tumbuh. Kemungkinan tersebut pada kenyataannya bersentuhan dengan keterbukaan permanent orang-orang muslim terhadap pengaruh adat-istiadat Jepang dan ritual-ritual tradisional seperti menundukkan kepala amat dalam serta berpartisipasi secara kolektif dalam acara-acara yang bersifat religiuis dan berkunjung ke kuil. Mungkin permasalahan yang muncul adalah ketika keterlibatan pada anak Muslim dalam perayaan-perayaan semacam itu akan menjadikan mereka target empuk transmisi dan penanaman budaya non-Islam dan kebiasaan soaial. Komunitas Islam di Jepang amat membutuhkan kehadiran lembaga-lembaga Islam di seluruh Jepang.

Terdapat upaya-upaya permanent untuk membangun atau merubah unit-unit pemukiman menjadi masjid-masjid di banyak kota dan dengan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa, juga ingin membangun perusahaan-perusahaan yang diharapkan akan menghasilkan buah-buahan. Terdapatnya miskonsepsi dalam pengajaran Islam diperkenalkan oleh media Barat hharus diluruskan dengan sebuah pendekatan yang lebih efisien yang diambil dengan penuh pertimbangan terhadap adanya keistimewaan masyarakat jepang yang merupakan salah satu masyarakat yang paling terpelajar di dunia. Karena adanya distribusi yang tidak merata, maka terjemahan Al-Quran dalam bahasa Jepang tidak tersedia di ruang public. Literatur Islam benar-benar sulit ditemui di toko buku atau perpustakaan umum kecuali beberapa essay yang ditulis dalam bahasa Inggris serta buku-buku yang dijual dengan harga yang relative mahal. Akibatnya, tidak heran jika kita hanya menemukan bahwa pengetahuan orang-orang Jepang mengenai Islam hanya terbatas seputar poligami, Sunni dan Syiah, Ramadhan, Mekah, Allah adalah Tuhan-nya orang Islam, dan Islam adalah agamanya Muhammad. Akankah Islam bergaung lebih keras di Jepang? Dengan terdapatnya bukti-bukti yang signifikan mengenai terdapatnya tanggung jawab untuk berdakwah serta penilaian yang rasional terhadap adanya keterbatasan dan kapabilitasnya, komunitas Muslim menunjukkan komitmen yang lebih kuat untuk melaksanakan kewajiban dakwahnya dengan cara-cara yang lebih terorganisir. Di masa yang akan datang diharapkan masa depan Islam dan para pemeluknya akan lebih baik daripada sebelumnya, tentunya dengan mengharapkan pertolongan Allah.

Prediksi serta harapan Nur Ad-Din Mori yang dia gulirkan pada tahun 1980-an ternyata menjadi kenyataan. Sekarang, setelah dunia memasuki abad ke-21 dan seiring dengan pembangunan negaranya, masyarakat Jepang menjadi semakin menginternasional. Menjadi bangsa yang terbuka bagi dunia, Jepang giat memberikan bantuan, termasuk beasiswa bagi para pelajar berprestasi dari berbagai negara termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Indonesia sehingga tidaklah mengherankan jika mayoritas populasi Muslim di Jepang adalah orang asing dan yang paling banyak adalah orang Indonesia, selain India dan Pakistan. Jumlah populasi Muslim Indonesia di Jepang sendiri mencapai 20.000 (dua puluh ribu) orang.

Populasi Muslim Indonesia di Jepang ini giat melakukan kegiatan-kegiatan keislaman yang berada di bawah payung berbagai macam organisasi dan lembaga, mulai dari yang bersifat social semacam PMIJ (Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang), FLP (Forum Lingkar Pena) Jepang, sampai yang bersifat politis seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Jepang dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Jepang. Biasanya orang-orang yang berafiliasi dalam organisasi serta lembaga tersebut mengadakan kegiatan dalam bentuk camp-camp yang merupakan salah satu tradisi di sana. Tidak hanya orang Indonesia saja yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mereka selenggarakan, ternyata orang-orang Jepang pun tertarik mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Setelah terjadi peristiwa teror 11 September 2001 (di New York), masyarakat Jepang juga memberikan perhatian yang sangat besar terhadap Islam. Selain organisasi dan lembaga yang dikelola Muslim asing, Muslim Jepang juga memiliki organisasi dan lembaga keislaman yang mereka kelola sendiri, seperti Japan Association of Middle East Studies (JAMES). JAMES ini aktif menyelenggarakan kajian-kajian (dalam bentuk seminar maupun diskusi) seputar Islam. Dan dari hasil pengkajian Islam yang intensif dilakukan di kampus-kampus terkenal di Jepang itu lahirlah sarjana-sarjana Islam Jepang sekaliber Prof. Sachiko Murata, pengarang buku The Tao of Islam yang terkenal itu. Prof. Sachiko Murata sendiri akhirnya memeluk Islam setelah belajar Islam di Fakultas Teologi University of Tokyo.

Japan Muslim Association yang sudah berdiri sejak 1953 sendiri sekarang ini sangat giat melakukan penerjemahan dan menerbitkan kitab suci Al-Quran, Hadits Nabi, serta buku tentang cara sholat. Hal ini merupakan sebuah kemajuan yang cukup signifikan mengingat beberapa tahun yang lalu untuk merekrut anggota saja masih sulit dilakukan oleh organisasi pertama yang menjadi afiliasi utama Muslim Jepang ini.

Selain itu juga ada Hokkaido Islamic Society (H.I.S.) yang tujuan pendiriannya adalah untuk meayani kebutuhan orang-orang Muslim, terutama Muslim asing yang tinggal di Hokkaido, jumlahnya kira-kira 150 orang. H.I.S. merupakan sebuah organisasi non-politis yang concern ke penerapan ajaran-ajaran Islam (hokum Islam) dengan tetap menghormati hokum yang diterapkan Jepang. Dengan kata lain, komunitas ini mencoba untuk menjawab tantangan zaman menggunakan Islam sebagai rujukan (Islam Worldwide). H.I.S. didirikan tahun 1992 oleh orang-orang Muslim yang menetap di Hokkaido.

Meskipun begitu, orang asli Jepang yang memeluk Islam masih sangat sedikit, yakni sekitar 70.000 (tujuh puluh ribu) orang saja dari total populasi penduduk Jepang yang mencapai 120.000.000 (seratus dua puluh juta) orang. Seorang Guru Besar Fakultas Teologi Universitas Doshisha, Hassan Ko Nakata, yang memeluk Islam setelah mempelajari Islam di Fakultas Agama Islam University of Tokyo selama 3 tahun, yang pada 9 Maret 2005 lalu berceramah di Pesantren Cigadog, mengatakan bahwa perkembangan Islam di Jepang juga banyak dipengaruhi oleh banyaknya wanita-wanita Jepang yang menjadi Muslim karena menikah dengan pria Muslim asing. Pemeluk Islam di Jepang adalah bukan sejak lahir, namun setelah dewasa barulah menjadi pengikut Islam atas kemauan sendiri. Namun sekali lagi, jumlahnya masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan total populasi penduduk Jepang.

Saya yakin bahwa ini adalah kesempatan yang paling baik untuk menyiarkan agama Islam di kalangan Bangsa Jepang. Sebab ketidaktahuan yang menjalar di belakang benda duniawi telah menyebabkan bangsa yang menyebut dirinya maju itu menjadi mangsa atau korban kekosongan jiwa. Dan Islam adalah satu-satunya agama yang sanggup mengisi kekosongan jiwa mereka. Kalaulah langkah-langkah teratur dilakukan untuk dakwah Islam di Jepang sekarang, maka tidak akan lebih dari dua atau tiga turunan, seluruh bangsa ini telah memeluk Islam. Saya menegaskan bahwa usaha serupa akan merupakan pertolongan yang besar buat Islam di Timur Jauh, sekaligus merupakan nikmat terbesar bagi kemanusiaan di bagian dunia ini.

Sumber majalah Al-Mu’tashim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,345 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: