Refleksi Maulid Nabi: Epos Kepemimpinan yang Hilang

DetikCOM – Tepat 1441 tahun lalu (menurut penaggalan Syamsiyah atau Masehi), cahaya itu semburat dari tetandusan jazirah. Lembah yang merekam fase-fase sejarah gelap paganis masyarakat jahiliyah Arab, menjadi saksi lahirnya anak manusia yang dikemudian hari mengubah wajah dunia. 12 Rabi’ulawal tahun Gajah, “the great man” kata Alphonse de Lamartine penyair Prancis yang menulis tentang nya, atau “great leader” julukan yang diberi oleh Michael H. Hart, Muhammad Saw terlahir ke dunia sebagai seorang yatim.

Tak ada yang menyangka, putra dari Abdullah bin Abdul Muththalib yang senasab dengan Nabi Ibrahim AS, dari keturunan Nabi Ismail As, kelak menjadi tokoh terbaik, pemimpin paling sukses, dan panglima yang ahli strategi perang. Bukan hanya itu, Muhammad saw yag menghabiskan masa kecilnya dengan mengembala kambing penduduk Mekah, juga mampu membuat mainstream baru dalam pola kehidupan sosial miliaran manusia. Memadu antara spiritualitas dan kepemimpinan, antara seruan kebakan dan akhlak, antara kekuatan angkatan bersenjata dan cinta serta sederet prestasi yang rasa-rasanya diluar nalar logis manusia.

Tapi begitulah Muhammad saw yang mendapat bimbingan wahyu dari Rabb Semesta Alam, inspirasinya tak lekang oleh zaman, hingga melewati masa 14 abad, ajaran yang dibawanya setia diikuti oleh lebih dari 1,57 miliar manusia muslimdi dunia. Ribuan bahkan hingga juataan buku ditulis untuk mengupas dan menelisik jejak hidupnya, rasanya tak ada manusia yang menjadi perhatian sejarah sebesar perhatian kepada Muhammad Saw. Bukan hanya oleh yang se iman di dalam Islam, yang non Islam pun mengakui kesempurnaan pribadi sang Nabi.

Di negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini, di negeri yang krisis teladan dan penuh problema ini, wajiblah kiranya kembali bercermin, melihat dengan jernih untuk kemudian mengambil hikmah dari samudera sejarah kehidupan Muhammad Saw.

Hari-hari terkahir, dimana bangsa kita seperti kehilangan arah, tak tahu siapa yang diteladani, penjahat kelihatan indah karena setelan jas dan dasi. Politisi, polisi, penarik retribusi hingga petugas imigrasi tampil dengan mimik meyakinkan, apa lagi didukung performa media (baca:pencitraan) yang apik. Namun keindahan citra manipulatif masih belum mampu menjawab, benarkah mereka yang sering berbicara di media, disetel sedemikian rupa patut jadi teladan atau pemimpin?

Di Negeri yang telah 13 tahun meninggalkan fase hitam penguasa despotik yang diktator ini, kita ridu pemimpin yang visioner, tegas, berani, mengayomi, humanis, amanah dan mampu mengelaborasi antara ruh politik dan agama, antara nilai-nilai moral dan spiritual.

Warren Bennis, di dalam bukunya On Becoming a Leader, merumuskan enam sifat dasar yang harus dimiliki pemimpin. Diantaranya, visioner, berkemauan kuat (pasion), memiliki integritas, amanah, berani dan pembelajar. Apa yang dirumuskan Bennis, 13 abad sebelumnya telah dipraktekkan oleh Muhammad Saw. Tak heran kiranya jika Michael H.Hart di dalam karyanya The 100 : A Ranking Of The Most Influential Persons in History, menempatkan Muhammad Saw sebagai pemimpin yang paling berpengaruh, “Most Influential Person” sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Sikap visioner Muhammad Saw, tercermin dari pandangan-pandangan optimistik yang disertai kabar-kabar gembira kepada umat Islam. Seperti saat menggali “parit” di peristiwa perang Khandaq, Rasulullah Saw mengabarkan bahwa istana Kisra di Parsi dan Istana Romawi akan jatuh ke tangan Islam. Dimasa Umar bin Khattab, visi yang disampaikan Muhammad Saw itu, tercapai. Persia takluk ditangan panglima ekspedisi Saad bin Abi Waqqas.

Pun ketagguhan tekad (passion) Muhammad Saw tak surut walau berbagai macam cara dilakukan untuk menghalangi. Dari tawaran wanita, jabatan hingga materi melimpah, semua tertolak olehnya demi mewujudkan dakwah Islam sebagai misi perdamaian untuk semesta alam, rahmatan lil alamin.

Integritas (integrity) dan sikap amanah (trust) Muhammad Saw juga tak perlu dipertanyakan lagi, bukan hanya umatnya (Islam) yang memuji, sastrawan Katolik Alphonse de Lamartine pun memberi sanjungan. “As regards all the stadards by which Human Greatness may be measured, we may well ask Is There Any Man Greater Then He?”

Muhammad Saw membangun integritas bukan karena pencitraan lewat media dan manipulasi lewat kampanye, tapi lahir dari ketulusan sikap seorang pemimpin yang luhur. Bahkan Abu Sufyan yang memusuhi, pun memberi kesaksian atas integritas al amin. Dihadapan Raja Heraklius, Kaisar Romawi Abu Sofyan bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah orang yang jujur dan tak ada lagi orang di Mekah saat itu yang sejujur Muhammad Saw.

Jiwa kepemimpinan holistik yang memadu akal dan wahyu, moral dan akhlak serta humanisme dan toleran menuntun jazirah Arab yang sebelum kedatangannya hidup dengan dark age, peradaban gelap, menjadi jazirah yang penuh cahaya. Dalam waktu 23 tahun (13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah), Muhammad mampu meletakkan dasar-dasar negara dan peradaban modern yang dikemudian hari menyinari dua pertiga belahan dunia.

Di negeri sebesar Indonesia dengan limpahan sumber daya alam dan kuantitas sumber daya manusia ini, hanya satu yang kurang untuk menjadikan Indonesia sebagai imperium baru sebagaimana prediksi Standard Charter Bank, bahwa Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi global pada tahun 2030 mendatang, kekurangannya yaitu pada pemimpin.

Indonesia butuh pemimpin sebagaimana rumusan karakter kepemimpinan versi Waren Bennis, visioner, kuat, memiliki integritas, jujur, lurus, amanah. Bukan lagi saatnya berputar pada lingkaran setan politik transaksional yang sarat manipulasi dan pencitraan semu. Bukan lagi saatnya anti kritik dan menyalahkan oposisi. Betapa indah jika pemerintah mendapat pujian dan kesaksian integritas dari lawan-lawan politiknya (oposisi), seperti pengakuan Abu Sufyan terhadap kemuliaan integritas Muhammad Saw. Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, yang membuat tidak mungkin hanya satu, yaitu keengganan untuk berubah. Semoga momentum Maulid Nabi Muhammad Saw mampu mengembalikan epos kepemimpinan di negeri tercinta. Amin!

*Jusman Dalle (penulis) adalah Mahasiswa Manajemen Universitas Muslim Indonesia-Makassar, Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Founder Forum Cendikia Muda Indonesia (ForceMU-I)

Jusman Dalle
jusmandalle@rocketmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,100 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: