Sistem Politik Luar Negeri Amerika Serikat: Polisi Dunia yang Membabi-Buta

Sistem politik luar negeri Amerika Serikat (AS) sering bertindak sebagai “polisi dunia” yang menurut mereka dilakukan demi tegaknya kebenaran. Padahal, dalam tataran tertentu, kebenaran bagi AS sebenarnya merupakan kerugian bagi negara lain. Ada tiga contoh penerapan “kebenaran” versi AS yang meninggalkan luka panjang bagi negara-negara yang dijadikan objek sang polisi dunia.

Indonesia

Sudah bukan rahasia lagi jika AS pernah menyusupkan agen rahasianya menjelang tumbangnya kekuasaan Soekarno. Saat itu, CIA yang kemungkinan bekerjasama dengan beberapa petinggi Angkatan Darat (Soeharto yang utama) mengembuskan isu Dewan Jenderal yang akan mengudeta Soekarno pada 5 Oktober 1965.

Terpicu dengan rencana kudeta ini, PKI -yang sama-sama ingin mengkudeta- terbakar dan beberapa sempalannya (seperti dalam Peristiwa Pemberontakan Madiun 1948) melakukan “kerja sendiri”. Sepasukan orang yang berseragam Cakrabirawa menculik dan membunuh enam jenderal Angkatan Darat yang disebut-sebut sebagai Dewan Jenderal.

Efeknya sangat fatal, PKI menjadi satu-satunya tertuduh; lalu ditumpas bersama-sama. AS jelas berkepentingan dengan lenyapnya PKI karena dengan demikian mereka mengurangi ancaman “negara komunis” (saat itu Indonesia begitu dekat dengan RRC) di Asia Tenggara.

Cili

Pada 1973, delapan tahun pascapemberontakan di Indonesia, Cili menjadi target politik luar negeri AS. Kasusnya sama, dimunculkan isu Dewan Jenderal yang akan menumbangkan Salvador Allende, pemimpin Cili saat itu. Kali ini, yang memanfaatkan keadaan adalah Angkatan Bersenjata Cili.

Dalam drama pengepungan istana, Allende bunuh diri (beberapa sumber menyatakan ia ditembak) dan sejak saat itu Augusto Pinochet memimpin Cili. Dikabarkan beberapa saat sebelum Allende tumbang, beredar kartu di kalangan tertentu yang isinya menyatakan “Jakarta sudah dekat”, artinya Cili bernasib sama dengan Indonesia. Bahkan, operasi CIA di Cili disebut sebagai Operasi Jakarta.

Afghanistan

Afghanistan dahulu berada dalam kekuasaan Uni Soviet. Berkat bantuan AS, para pejuang berhasil mendirikan negara Afghanistan yang merdeka, sekaligus menempatkan Taliban sebagai penguasa. 12 tahun setelah Afghanistan bebas, AS meniupkan isu terorisme yang dilakukan Al Qaeda bekerjasama dengan Taliban.

Banyak yang menduga jika kehancuran WTC pada 11 September 2001, merupakan kesalahan AS yang sengaja dibuat demi isu terorisme. Isu ini digunakan sebagai dalih penghancuran Taliban. Tak lama berselang, AS menyerang Afghanistan (dan Irak) untuk memusnahkan rezim berkuasa (yang keterkaitannya dengan Al Qaeda cuma dihubung-hubungkan).

Terakhir, fakta menunjukkan bahwa serangan AS ke Afghanistan tak lebih daripada proyek terima kasih Bush kepada rekanannya yang mendukung dalam Pemilu, plus demi meraih lithium cuma-cuma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,345 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: