Analisis Dampak ACFTA bagi Indonesia, Peluang atau Hambatan

ASEAN – China Free Trade Agreement (ACFTA), yang ditandatangani pada 4 November 2004, sejak tanggal 1 Januari 2010 yang lalu telah masuk pada tahap pelaksanaan. Dengan tujuan yang antara lain:
Memperkuat dan meningkatkan kerjasama perdagangan kedua pihak
Meliberalisasikan perdagangan barang dan jasa melalui pengurangan dan penghapusan tarif.
Mencari area baru dan mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan kedua pihak.
Memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif dengan Negara anggota baru ASEAN dan menjembatani gap yang ada dikedua belah pihak.

Seperti pada prinsip dasarnya, liberalisasi atau membebaskan dan menyerahkan pada mekanisme pasar selalu menjanjikan peluang untuk berkompetisi. Kawasan yang total penduduknya hampir mencapai dua miliar dan total gabungan Gros Domestic Bruto (GDP) hampir USD 6 triliun, menjadi zona perdaganan bebas dan arena kompetisi untuk memasarkan barang hasil industri dari seluruh negara anggota ASEAN dan China yang telah meratifikasi ACFTA tersebut. Namun sejauh manakah tingkat resistensi Negara-negara ASEAN (khususnya Indonesia) terhadap ACFTA..?.

Dengan segala peluang yang dijanjikan serta kemudahan yang diberikan, kompetisi atau persaingan membutukan kekuatan dan ketahanan agar dapat bertahan dalam upaya memperoleh keuntungan. Dalam hal liberalisasi perdagangan, ketahanan ekonomi menjadi hal utama agar tetap berada dalam persaingan, dan tidak tumbang ketika sistem ekonomi tengah dilanda badai kirisis atau gangguan. Dan, mampukah Indonesia memanfaatkan ACFTA sebagai peluang untuk memajukan perekonomian, dengan bekal ketahanan ekonomi dan kemampuan industri seperti sekarang..?, atau hanya menjadi pasar besar-besaran bagi barang China yang masuk tanpa mampu bersaing sama sekali..?.

Indonesia memasuki perdagangan bebas ASEAN-China dengan pro-kontra yang mengiringinya, terkait dampak positif atau negative yang akan diraih. Ketidakmampuan industri lokal untuk bersaing yang akan membuatnya semakin terpuruk dan mati secara mengenaskan, merupakan dampak buruk yang menjadi ancaman. Tidak hanya itu, diperkirakan akan meningkatnya pengangguran yang diperkirakan mencapai seperempat dari dari keseluruhan jumlah tenaga kerja atau 7,5 juta jiwa, akibat gulung tikarnya perusahaan karena tak mampu bersaing , umumnya industri kecil dan rumahan.

Seperti diketahui, lebih murahnya barang-barang China dibanding barang hasil industri dalam negeri dikhawatirkan merebut pasar dalam negeri (umumnya barang-barang tekstil dan hasil produksinya), karena bukan hanya konsumen yang akan beralih pada produk China tapi juga para pedagang karena modal yang dikeluarkannya akan lebih sedikit. Dukungan dari pemerintah berupa kebijakan-kebijakan pembiayaan perbankan seperti memberikan kredit dengan bunga hanya 3% untuk pelaku industri atau pengusaha merupakan faktor utama pendorong kelancaran bergulirnya kegiatan industri, selain itu pemerintah China juga berusaha memposisikan diri sebagai pelayan yang menyediakan segala kebutuhan sarana dan prasarana menyangkut kegiatan industri. Mulai dari pengurusan surat izin usaha yang dapat diperoleh dengan mudah, hingga penyediaan infrastuktur penunjang guna meningkatkan ekspor seperti jalan raya, pelabuhan angkut, dan ketersediaan tenaga listrik. Yang menjadi pertanyaan kemudian, apa yang telah dilakukan pemerintah Indonesia terhadap dunia industri dalam negeri untuk menghadapi perdagangan bebas ASEAN-China..?, dari sini perdebatan pro-kontra berlanjut.

Mari lihat apa yang membuat produk-produk dalam negeri lebih mahal dibanding produk China, penyebabnya antara lain: banyaknya pungutan liar (pungli) yang harus dibayar oleh para pengusaha, baik yang atas nama pemerintah ataupun tidak; sulitnya memperoleh pinjaman atau kredit untuk modal atau pengembangan usaha, di Indonesia pengusaha menengah-besar memperoleh kredit dengan bunga 12%, sementara pengusaha kecil justru mendapat bunga lebih besar, 15 %. Seharusnya semakin kecil usaha, semakin kecil juga bunga yang dikenakan, tapi lebih jauh, malah lebih banyak pengusaha kecil yang sama sekali ditolak dalam pengajuan kredit; infrastruktur yang belum memadai serta sarana dan prasarana yang sulit diperoleh. Kesulitan dalam pengurusan surat izin usaha sudah menjadi ciri dari birokrasi di Indonesia, mekanismenya yang mengharuskan melewati lebih dari satu meja bukan hanya memperlambat waktu tapi juga lebih banyak uang yang dikeluarkan, lebih tepatnya berbelit dan korup ciri birokrasi disini. Kemudian infrastruktur yang belum memada seperti jalan raya, pelabuhan angkut, dan listrik semua masih jauh dalam ketersediaanya dibanding China. Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) baru-baru ini juga membuat semakin beratnya beban para pengusaha kecil, karena modal yang dikeluarkan akan lebih besar. Semua berbanding terbalik dengan yang dilakukan pemerintah China terhadap para pengusaha atau pelaku industri lainnya, yang memberikan dukungan sepenuhnya.

Upaya-upaya yang seharusnya dilakukan pemerintah bila ditinjau dari faktor-faktor yang menghambat laju perkembangan sektor industri dalam negeri, antara lain: mengambil atau merevisi kembali kebijakan proteksi dan pemberian fasilitas pinjaman atau kredit dengan bunga rendah atau sama sekali tanpa bunga kepada khususnya pemilik usaha kecil menengah (UMKM), dan kemudahan untuk mengakses serta tepat sasaran; memangkas pungutan-pungutan liar, baik yang dilakukan atas nama dinas terkait dipemerintahan ataupun pungutan liar yang dilakukan oleh masyarakat; penyediaan sarana dan prasarana dan infastuktur penunjang kegiatan industri. Perhatian pemerintah dalam hal ini sangat minim sekali, misalnya pada penyediaan alat atau mesin produksi bagi para pegusaha industri kecil dan rumahan untuk dapat meningkatkan produktivitas industri, kemudian pada kesediaan infrastruktur penunjang kegiatan distribusi, karena pada umumnya pengusaha industri kecil dan rumahan berada diluar kota besar, dan upaya pemerintah seharusnya menyediakan segala penunjang untuk kemudahan distribusi seperti jalan raya, jembatan, pelabuhan angkut muat, dan terakhir ketersediaan dan kemudahan untuk penggunaan listrik.

Dukungan pemerintah bagi para pengusaha atau dunia industri (khususnya industri kecil) sangat dibutuhkan, agar terhindar dari kemungkinan dampak buruk dari ACFTA. Seperti diketahui pemberlakuan ACFTA nantinya akan diikuti dengan pemberlakuan seluruh tarif impor menjadi 0%, dan hal yang paling mungkin terjadi adalah serbuan besar-besaran produk-produk barang China, kemudian bila industri dalam negeri tidak mampu bersaing, maka ACFTA hanya akan membuat para pelaku industri gulung tikar dan angka pengangguran akan meningkat. Bila pasar domestik tak mampu direbut, kecil kemungkinan untuk menembus pasar internasional, faktor harga yang lebih tinggi menjadi masalah bagi industri dalam negeri. Jadi keseriusan pemerintah dalam hal ini tidak bisa ditawar lagi.

Pembenahan besar-besaran memang diperlukan agar dampak buruk dari ACFTA dapat dihindari. Dimulai dari struktur atas, para pengambil kebijakan dan birokrat. Para birokrat harus mampu menciptakan kebijakan-kebijakan dan regulasi yang kreatif, yang mendukung dan memberi kemudahan bagi para pengusaha dalam menjalankan usahanya, juga peningkatan produktivitas. Dimasyarakat, edukasi tentang penghargaan terhadap produk-produk dalam negeri harus diberikan sejak dini, dalam hal ACFTA, agar masyarakat tidak hanya menjadi alat pendukung pengembangan hegemoni ekonomi China di Indonesia. Dan penegasan kembali sistem ekonomi Indonesia, agar tiadk terbawa arus liberalisasi yang memang tidak sesuai dengan prinsip ekonomi kerakyatan yang dianut Indonesia seperti yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 33.

Sejatinya pemberlakuan ACFTA dapat mendatangkan keuntungan dari segi ekonomi. Penyerahan perdagangan dan ekonomi pada mekanisme pasar sekilas memang memunculkan nuansa untuk berkompetisi, tapi pada faktanya kompetisi selalu dipegang atau dikuasai oleh Negara besar dan kuat serta memiliki ketahanan ekonomi. Kemandirian ekonomi menjadi tuntutan utama untuk memiliki ketahanan ekonomi, dan kemandirian inilah yang tidak pernah dimiliki oleh Negara Indonesia Hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,345 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: