Tanggapan Dunia Terhadap Protokol Kyoto Sebagai Suatu Usaha Untuk Menanggulangi Global Warming

STUDI KASUS AMERIKA SERIKAT DAN UNI EROPA

1.1 LATAR BELAKANG

Hubungan internasional kontemporer tidak hanya memperhatikan hubungan politik antar negara saja tetapi juga sejumlah subjek lainnya seperti interdependensi ekonomi, hak azasi manusia, perubahan transnasional, organisasi internasional, rezim internasional, lingkungan hidup dan sebagainya. Secara umum lingkungan hidup adalah bagian mutlak yang tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Dengan demikian, jika terjadi kerusakan lingkungan di sekitar kita secara tidak langsung akan memberikan kontribusi terhadap kerusakan lingkungan secara global. Hal ini yang mendasari isu lingkungan hidup diangkat sebagai agenda dalam hubungan internasional yang pertama kalinya dilakukan pada tahun 1970-an dikarenakan masyarakat sudah mulai menyadari dampak dari kerusakan lingkungan.

Fenomena lingkungan hidup yang saat ini sedang hangat dibicarakan adalah mengenai Pemanasan global atau yang dikenal sebagai Global Warming. Isu Global Warming menjadi salah satu highlight dari isu enviromentalisme yang sedang berkembang belakangan ini dikarenakan memiliki dampak global. Dampak yang cukup signifikan dari pemanasan global memang menjadi dasar bagi kita sebagai masyarakat dunia untuk segera melakukan tindakan agar dapat membatasi pemanasan global dan menimbulkan dampak yang semakin serius terhadap kehidupan kita. Banyak kerugian baik dari segi sosial ataupun ekonomi dari dampak yang terasa sekarang ini seperti semakin hangatnya (bahkan cenderung panas) suhu di permukaan bumi, tingginya permukaan laut sehingga dapat menenggelamkan pulau-pulau, tingginya kelembaban udara, meluasnya penyakit endemic, gelombang pasang laut yang mengakibatkan industri pertanian menurun sehingga menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia, terjadinya badai, tsunami, kerusakan seluruh ekosistem makhluk hidup dan sebagainya, di mana kesemua hal itu tidak menutup kemungkinan akan mengancam eksistensi manusia khususnya dan eksistensi dunia pada umumnya. Potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh pemanasan global sangat besar dan membahayakan kelangsungan hidup umat manusia sehingga ilmuwan-ilmuwan ternama dunia menyerukan perlunya kerja sama internasional serta reaksi yang cepat untuk mengatasi masalah ini.

Pada dasarnya, pemanasan global merupakan masalah moral yang menjadi tanggung jawab individu perorangan untuk mengatasinya. Tetapi, mengingat individu adalah bagian dari ekosistem dunia, maka tidak mungkin kita (individu) mencoba mengatasi masalah ini tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Selain itu, adanya perbedaan kebijakan antar negara serta pola pembangunan yang menjadi acuan diberbagai negara menjadi tonggak berkembangnya isu pemanasan global ini menjadi sebuah masalah politis. Di mana perlu adanya kesepakatan bersama seluruh masyarakat dunia melalui sebuah perjanjian internasional (traktat internasional) guna mengurangi emisi karbon dan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk membatasi meluasnya pemanasan global serta meyakinkan masyarakat dunia untuk menyatukan kesadaran mereka dalam satu aturan untuk menyelamatkan Bumi.

Tema efek rumah kaca dan pemanasan global, telah memicu perbedaan antar negara berpengaruh di dunia sejak hampir tiga dasawarsa terakhir ini. Dalam tema pemanasan global, dunia terbagi dua kubu yang pro dan kontra penurunan emisi gas rumah kaca terutama sejak diketahuinya berlubangnya lapisan ozon di atmosfir, serta mencairnya lapisan gletser dan salju abadi di kutub, tema perlindungan iklim menjadi semakin aktual. Tahun 1979 akademi ilmu pengetahuan nasional AS sudah melaporkan kaitan efek rumah kaca terhadap perubahan iklim global. Mereka juga memperingatkan politik menunggu dan mengamati terlebih dahulu, yang akan berarti menunggu sampai semuanya terlambat.

Menanggapi tema yang berkaitan dengan nasib manusia itu, pada tahun 1992, PBB menggelar konferensi internasional membahas perubahan iklim global, yang diselenggarakan di Rio de Janeiro-Brazil. Konferensi tersebut juga merupakan peringatan kedua puluh tahun pertemuan Stockholm.[1] Dalam konferensi Rio, tercapai kesepakatan perlindungan iklim, dengan menurunkan emisi gas rumah kaca secara global. Namun pada kenyataannya, penerapannya tidak mudah. Untuk menetapkan seberapa besar penurunan emisi gas rumah kaca, siapa yang memiliki kewajiban utama, serta bagaimana mekanismenya, diperlukan konferensi-konferensi lanjutan yang bertele-tele.

Segera setelah Konvensi Kerangka Kerjasama Persatuan Bangsa-bangsa mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC-United Nations Framework Convention on Climate Change) disetujui pada KTT Bumi (Earth Summit) tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil, negara-negara peserta konvensi mulai melakukan negosiasi-negosiasi untuk membentuk suatu aturan yang lebih detil dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (selanjutnya disebut GRK).

Pada saat pertemuan otoritas tertinggi tahunan dalam UNFCCC ke-3 (Conference of Parties 3 – COP) diadakan di Kyoto, Jepang, sebuah perangkat peraturan yang bernama Protokol Kyoto diadopsi sebagai pendekatan untuk mengurangi emisi GRK. Kepentingan protokol tersebut adalah mengatur pengurangan emisi GRK dari semua negara-negara yang meratifikasi. Protokol Kyoto ditetapkan tanggal 12 Desember 1997, kurang lebih 3 tahun setelah Konvensi Perubahan Iklim mulai menegosiasikan bagaimana negara-negara peratifikasi konvensi harus mulai menurunkan emisi GRK mereka. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi atau pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara 0,02°C dan 0,28°C pada tahun 2050.[2]

Menurut pengertiannya secara umum, protokol adalah seperangkat aturan yang mengatur peserta protokol untuk mencapai tujuan tertentu yang telah disepakati. Dalam sebuah protokol, para anggota jelas terikat secara normatif untuk mengikuti aturan-aturan di dalamnya dan biasanya dibentuk untuk mempertegas sebuah peraturan sebelumnya (misalnya konvensi) menjadi lebih detil dan spesifik.[3]

Sepanjang COP 1 dan COP 2 hampir tidak ada kesepakatan yang berarti dalam upaya penurunan emisi GRK. COP 3 dapat dipastikan adalah ajang perjuangan negosiasi antara negara-negara ANNEX I yang lebih dulu mengemisikan GRK sejak revolusi industri dengan negara-negara berkembang yang rentan terhadap perubahan iklim. Negara-negara maju memiliki kepentingan bahwa pembangunan di negara mereka tidak dapat lepas dari konsumsi energi dari sektor kelistrikan, transportasi, dan industri. Untuk mengakomodasikan kepentingan antara kedua pihak tersebut Protokol Kyoto adalah satu-satunya kesepakatan internasional untuk berkomitmen dalam mengurangi emisi GRK yang mengatur soal pengurangan emisi tersebut dengan lebih tegas dan terikat secara hukum (legally binding).

Nama resmi persetujuan ini adalah Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim). Protokol ini telah disepakati pada Konferensi ke-3 Negara-negara pihak dalam Konvensi Perubahan Iklim (The United Nations Frame Work Convention on Climate Change/the UNFCCC) yang diselenggarakan di Kyoto, Jepang tanggal 11 Desember 1997. Pada saat itu Protokol Kyoto ditandatangani oleh 84 negara dan tetap terbuka untuk ditandatangani dari tanggal 16 Maret 1998 sampai 15 Maret 1999 oleh negara-negara lain di Markas Besar PBB, New York. Namun demikian, bagi negara pihak yang belum menandatanganinya dapat mengaksesi protokol tersebut setiap saat. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan Rusia pada 18 November 2004. Pada waktu itu Protokol telah ditandatangani oleh 84 negara penandatangan.[4]

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB :

“Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC – yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.”[5] menurut penelitian akademi ilmu pengetahuan nasional AS, produsen utama gas rumah kaca adalah negara-negara industri maju. Amerika Serikat pada tahun 1990 tercatat sebagai juara dunia, dengan memproduksi lebih dari enam milyar ton gas rumah kaca per tahun. Sementara Jerman pada tahun 1990 menjadi runner up, memproduksi gas rumah kaca sekitar 1,2 milyar ton. Sedangkan Jepang, memproduksi sekitar 1,2 milyar ton gas rumah kaca pada tahun 1990 lalu”.[6]

Hingga Februari 2005, 141 negara telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Rusia dan 25 negara anggota Uni Eropa, serta Rumania dan Bulgaria. Ada enam negara yang telah menanda tangani namun belum meratifikasi protokol itu. Tiga di antaranya adalah negara-negara Annex I: Australia (tidak berminat untuk meratifikasi), Monako, Amerika Serikat (pengeluar terbesar gas rumah kaca, tidak berminat untuk meratifikasi). Sisanya adalah: Kroasia, Kazakhstan, dan Zambia.

AS, Australia, Italia, Tiongkok, India dan negara-negara berkembang telah bersatu untuk melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang.

Rusia juga sempat menarik dukungan mereka terhadap Protokol Kyoto. Hal ini sempat membuat dunia khawatir Protokol Kyoto tidak akan berkekuatan hukum secara internasional karena tidak memenuhi persyaratannya. Persyaratan Protokol Kyoto yang harus dipenuhi adalah keharusan bahwa Protokol itu diratifikasi oleh minimal 55 negara dan total emisi negara maju yang meratifikasi minimal 55% total emisi negara tersebut di tahun 1990. Tapi akhirnya pada November 2004 Rusia meratifikasi Protokol Kyoto.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Permasalahan yang timbul disini adalah tindak lanjut dari protocol Kyoto ini, baik dari Negara yang meratifikasi maupun yang tidak meratifikasi. Apakah negara yang meratifikasi telah berhasil melakukan tindakan-tindakan penanggulangan maupun pencegahan melebarnya global warming secara efektif atau tidak. Serta bagaimana dampak dari protocol Kyoto ini terhadap global warming itu sendiri dilihat dari efektifitas ratifikasi protocol.

1.3 PERUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini kami akan memfokuskan pembahasan kami pada :

· Sikap Amerika sebagai pihak yang tidak meratifikasi protocol Kyoto

· Sikap Uni Eropa sebagai pihak yang sangat aktif dalam masalah global warming

Bab II

KERANGKA KONSEPTUAL

Bab III

PEMBAHASAN

3.1 SIKAP AMERIKA SERIKAT

Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu negara yang menolak untuk meratifikasi protokol kyoto.Amerika, negara yang menyebabkan emisi terbesar gas rumah kaca di dunia, pada tahun 1990 tercatat sebagai juara dunia, dengan memproduksi lebih dari enam milyar ton gas rumah kaca per tahun mundur dari kesepakatan itu tahun 2001 dan menolak meratifikasi dengan mengatakan hal itu akan merugikan ekonominya dan protokol tersebut tidak sempurna karena tidak menerapkan restriksi emisi dari negara-negara yang industrinya berkembang pesat, seperti China dan India.

Surat tertanggal 13 Maret 2001 yang dilayangkan oleh Presiden AS, George W. Bush kepada Senat secara terang-terangan menentang Protokol Kyoto karena dianggap merugikan Amerika dan tidak perlu untuk meratifikasinya. Di samping itu juga belum ada penyelesaian masalah perubahan iklim global serta tidak ada teknologi yang secara komersial dapat mengurangi dan menyimpan karbon dioksida, menurutnya sehingga amerika serikat berkeputusan untuk menarik dukungannya terhadap Protokol Kyoto. Keputusan ini dikecam oleh rakyat Amerika sendiri dan juga oleh pemimpin negara lain di dunia. Tidak kurang mantan Presiden Jimmy Carter, Michael Gorbachev, bahkan oleh ilmuwan Stephen Hawking dan aktor Harrison Ford yang membuat surat terbuka di majalah Time edisi April 2001.

Demi mencegah pemberlakuan Protokol Kyoto yang diangap dapat mengancam kelancaran dunia industri Amerika, pada tahun 2002 lalu Presiden Bush mencoba mengusulkan alternatif baru. Akan tetapi usul Bush sama sekali tidak membantu, bahkan malah mengkaburkan jiwa pokok Protokol Kyoto. Menurutnya, dengan menurunkan pajak perusahaan dan konsumen, dapat mendorong pengurangan penyebaran gas rumah kaca. Bush mengatakan, lingkungan hidup baru akan bisa terlindungi, apabila perekonomian berjalan baik. Usaha ini hanya semata-mata diambil sebagai hadiah terhadap perusahaan-perusahan Amerika, karena pada pelaksanaannya kebijakan ini tidak menghasilkan manfaat apa-apa dalam mengurangi kerusakan global.

Bahkan Amerika kini menggandeng Australia, Italia, Tiongkok, India dan negara-negara berkembang lain untuk bersatu melawan strategi terhadap adanya kemungkinan Protokol Kyoto II atau persetujuan lainnya yang bersifat mengekang.

Sikap Amerika ini jelas-jelas melawan standar internasional. Padahal Amerika sebenarnya telah menandatangani dan meratifikasi perjanjian induknya, yaitu Kerangka Konvensi Perubahan Iklim, yang mengharuskannya mengadopsi kebijakan nasional dan mengambil langkah untuk mitigasi perubahan iklim dengan membatasi emisi gas rumah kaca. Arogansi Amerika ini akan semakin mempersulit tercapainya kesepakatan antar negara maju.

Sikap pasif amerika ini kemudian menimbulkan pertanyaan yang sangat mengganggu yaitu mengapa amerika serikat tidak meratifikasi protokol kyoto, bersifat pasif dan tidak ingin melakukan apa-apa untuk mencegah meluasnya efek pemanasan global padahal ia adalah penyumbang emisi karbindioksida terbesar di dunia.

Exxon Mobil Company Sebagai Penyebab Sikap Pasif Amerika

Sebagai perusahaan minyak terbesar di dunia, Exxon mobil company memiliki kekuasaan yang sangat besar untuk secara langsung mempengaruhi industri energy dan para pembuat kebijakkan untuk mewujudkan penggunaan energy yang bebas polusi dan tidak merusak lingkungan di masa yang akan datang namun sayangnya Exxon malah menggunakan kekuasaannya untuk membawa amerika ke belakang dan tetap menggunakan bahan bakar fosil

Exxonmobil adalah satu-satunya perusahaan minyak besar yang :
Menyangkal bahaya dari pemanasan global

Exxon mobil meragukan dan cenderung meragukan bahaya dari pemanasan global.yang dilakukan exxonmobil malah membiayai kelompok-kelompok yang melakukan pembohongan public mengenai pemanasan global dan mencegah dilakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk itu.
Menolak berinvestasi untuk energy yang bersih dan dapat diperbaharui

Exxonmobil adalah satu-satunya perusahaan minyak raksasa yang menolak berinvestasi untuk energy yang bersih dan dapat diperbaharui padahal padahal di lain pihak perusahaan minyak raksasa seperti Shell dan BP menginvestasikan miliaran dollar untuk untuk ini.menggunakan energy yang bersih dan dapat diperbaharui akan sangat menguntungkan di masa depan karena ini dapat mengurangi tingkat ketergantungan amerika pada minyak, mengurangi polusi air dan biaya kesehatan serta mengekang perluasan pemanasan global serta studi yang terakhir menunjukkan bahwa peralihan penggunaan bahan bakar fosil ke bahan bakar yang dapat dibaharui seperti angin, solar, suhu, biomassa akan mengurangi biaya yang dikeluarkan konsumen serta akan menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan gaji yang tinggi.
Merupakan anggota dari “arctic power”, satu-satunya kelompok atau badan lobi yang mncoba membuka tempat perlindungan kehidupan liar arctic nasional atau Arctic National Wildlife Refuge.
ExxonMobil belum membayar ganti rugi bagi kerusakan yang ditimbulkan akibat tumpahnya minyak Exxon di valdez.tidak kurang 6000 nelayan dan lainnya terluka oleh kerusakan yang ditimbulkan oleh tumpahnya minyak ini telah meninggal tanpa memperoleh kompensasi.

Berdasarkan data yang kami dapatkan Exxon mobil company adalah penyebab di belakang sikap pasif dan ogah-ogahan amerika serikat ini.hal ini dibuktikan dengan adanya data dari green peace dimana exxon mobil company memberikan dana yang sangat besar kepada badan-badan yang membuat laporan, penelitian dan hal-hal lainnya berkaitan dengan perubahan iklim kepada masyarakat. Exxon dengan bantuan dananya berusaha untuk menggunakan badan-badan ini melakukan pembohongan publik dengan memberikan data dan laporan yang salah. Hal ini dilaksanakan dengan tujuan agar masyarakat tidak berhenti menggunakan minyak sebagai bahan bakar utama dan beralih kepada bioenergi dimana hal ini akan dengan sangat jelas membuat perusahaan minyak raksasa amerika serikat ini bangkrut karena seperti kita ketahui bersama bahwa Laporan panel antar-pemerintah mengenai perubahan iklim yang merupakan otoritas tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai pemanasan global menyebutkan, polusi bahan bakar fosil akan meningkatkan temperatur pada abad ini. Karena itu, PBB menyerukan aksi global konkret untuk mengatasi dampak pemanasan global tersebut dan jika hal ini juga dilakukan di amerika serikat maka perusahaan ini akan benar-benar merugi.

You Get What You Pay For

What ExxonMobil -Funded Groups Delivered in 2006

Ini adalah sebagian badan atau organisasi yang dibiayai oleh Exxon dan hasil kerja atau laporan yang mereka berikan : ExxonSecrets.org

American Council for Capital Formation

ACCF telah menerbitkan 17 laporan spesifik mengenai iklim, analisis kebijakkan yang menekankan “kurangnya consensus scientific” mengenai pemanasan global dan menyatakan para pembuat keputusan tidak perlu mengikuti Mr.Gore dengan kebijakkan gagalnya yang hanya akan mengakibatkan peningkatan harga energy atau sumber daya, tingginya pengangguran dan

.

American Enterprise Institute (AEI)

Pada desember 2006, direktur eksekutif AEI Pusat Kebijakkan Iklim , Lee Lane,

Penulis, “Strategic Options for Bush Administration

Climate Policy,” berpendapat bahwa presiden bush melakukan tindakan yang benar dengan menolak keikutsertaannya dalam meratifikasi perjanjian tersebut dan ssebaiknya juga menolalak proposal perdagangan dengan tujuan mencegah pajak atas karbon dan menganjurkan perhatian yang lebih difokuskan pada pengembangan energy yang bersih atau bebas polusi dan teknologi geo-energi.

American Legislative Exchange Council

Menggunakan pendekatan “hak Negara”, Negara seharusnya melawan “federalism environmentalisme”, ALEC berpendapat bahwa Negara tidak seharusnya diatur oleh hukum federal yang mengharuskan melindungi kualitas air atau membatasi emisi. Ini dianggap akan menjadi bencana bagi ekonomi Negara, jadi baik Negara maupun kawasan yang telah mengadopsi target reduksi emisi diharuskan memikirkan kembali bahwa keadaan iklim global ini belum pasti dan pertanyaannya adalah seberapa banyak jika ada, bahaya global warming yang disebabkan oleh tindakan manusia.

CFACT – Committee for a Constructive Tomorrow

CFACT adalah badan yang dengan keras menyatakan tentang “variabilitas alam” yang menjelaskan bahwa iklim sama sekali atau sangat sedikit sekali dipengaruhi oleh aktivitas manusia.”

Congress of Racial Equality

Penasehat kebijakkan senior, Paul Driessen telah menulis beberapa artikel dan salah satu bukunya adalah

“Eco-Imperialism: Green Power, Black Death”). Yang dibahas di

Washington Times pada February 2007 yang berpendapat bahwa amerika serikat tidak perlu khawatir “exaggerated or imaginary crises”, khususnya global warming.

3.2 SIKAP UNI EROPA

Sikap Uni Eropa dalam menanggapi Protokol Kyoto sangat bertolak belakang dengan Amerika Serikat. Bila AS dengan tegas menolak untuk meratifikasi dan mencoba segala cara untuk mencegah adanya hal serupa Protokol Kyoto yang mengancam eksistensi perekonomian AS, maka UE bersikap sebaliknya. UE dikenal sebagai pihak yang sangat aktif dalam memperjuangkan ratifikasi protokol ini. Hal ini dikarenakan kerugian yang sangat besat bila UE sampai mengabaikan permasalahan ini.

Global Warming bagi UE dapat diartikan sebagai ”End of The Day” karena benua Eropa akan semakin dingin jika pemanasan global terus berlangsung, hal ini berdasarkan studi numeric jangka panjang mengenai dampak pemanasan global bagi dunia. Pemanasan global akan menyebabkan terjadinya pencairan es di kutub. Hal ini menyebabkan bertambahnya jumlah air, sehingga terjadi pengenceran air laut. Akibatnya, densitas air laut menjadi berkurang sehingga proses sinking atau downwelling (arus laut yang bergerak ke kedalaman) pun akan melemah. Melemahnya proses ini akan mengurangi jumlah air hangat yang masuk dari daerah tropis. Akibat selanjutnya, iklim di lintang menengah dan tinggi tidak lagi sehangat sebelumnya, dan ini yang akan memicu terjadinya Eropa yang membeku dalam jangka panjang.

Membekunya eropa merupakan akibat yang akan terjadi di masa akan datang jika global warming tidak ditanggulangi dengan baik, beberapa hal yang kini telah dirasakan Negara-negara eropa akibat global warming ini misalnya adalah :

· Rich countries, poor water, ini yang sedang dialami Negara-negara yang berbatasan dengan Atlantik di Eropa.Mereka menderita akibat kekeringan yang kerap terjadi,

· World Meteorological Organization (WMO), badan PBB yang memantau cuaca, atas riset pantaun iklim dan cuaca pada paro pertama 2007 melaporkan Cuaca tidak normal di hampir semua belahan bumi termasuk curah hujan tidak normal di Eropa Utara, cuaca ekstrem semakin sering muncul karena peningkatan emisi gas beracun karbondioksida. Hal yang sama juga memicu peningkatan temperatur global.

· Inggris dan Wales tahun ini juga mencatatkan musim hujan paling lama dan paling lebat pada Mei dan Juni sejak 1766. Hujan lebat yang memicu banjir itu juga mengakibatkan kerugian senilai USD 6 miliar (Rp 36 triliun) dan sembilan orang tewas. Pada saat yang sama, Jerman malah mencatat rekor periode paling panas dan kering pada April dan Mei sejak observasi cuaca di seluruh negeri dimulai pada 1901.

Melihat akibat-akibat yang telah terjadi di atas, maka UE telah dengan serius mencanangkan program yang bertujuan untuk mencegah semakin meluasnya pemanasan global. Melalui program perubahan iklim Eropa (European Climate Change Programme/ ECCP), UE berusaha untuk membatasi tingkat GRK sebesar 2derajat Celcius pada tingkat pre Industrinya.

Untuk mengurangi 33% GRK pada tahun 2020, UE mencoba untuk menerapkan segala penghematan, seperti penghematan tingkat permintaan energy, penghematan energy listrik, penghematan energy bahan bakar baik untuk industry maupun transportasi, serta pembaharuan suplai energy. Khusus untuk pembaharuan suplai energy, alternarif bahan bakar biodiesel telah mulai diterapkan di Negara- Negara Uni Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada BBM yang sangat boros pada tingkat emisi gas buang karbondioksida.

Keseriusan UE untuk menanggulangi global warming, juga terbawa pada tingkat internasional. Dalam pertemuan antar Negara maju KTT G8 yang berlangsung di Heiligendamm, Jerman 8 Juni 2007, UE memperlihatkan sikap tegasnya terutama dalam mempengaruhi AS untuk meratifikasi isi perjanjian protokol Kyoto.

Hal yang sangat menarik untuk dikaji, karena baru dalam permaslahan inilah kedua sekutu dekat tersebut saling berbeda pandangan. Bila AS lebih mementingkan perekonomiannya tanpa mengkhawaritkan masa depan geografisnya, maka UE sangat condong untuk melakukan penyelamatan agar daerahnya tak terkena imbas yang jauh lebih buruk dari global warming ini, yaitu kemungkinan untuk melenyapnya Eropa dari Peta Dunia.

Uni eropa berkomitmen untuk membatasi pemanasan global agar tetap di bawah dua derajat selama 1-2 dekade.di bawah ini,diagram yang menunjukkan target yang ingin dicapai Uni Eropa.

[1] Di Stockholm pada Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia (Human Environmental) tahun 1972, masyarakat internasional bertemu pertama kalinya untuk membahas situasi lingkungan hidup secara global. Di konferensi ini ditandatanganilah Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). UNFCC memiliki tujuan utama berupa menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer hingga berada di tingkat aman. UNFCCC mengatur lebih lanjut ketentuan yang mengikat mengenai perubahan iklim ini., desember 1997 di Kyoto

[2] Nature, Oktober 2003

[3] http://untreaty.un.org/

[4] http://www.infonuklir.com/Jurnal/Fokus/ProtokolKyoto.htm

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto

[6] http://www.freelists.org/archives/list_indonesia/04-2005/msg00931.html

2 Komentar (+add yours?)

  1. neyla anatasha
    Okt 10, 2011 @ 22:23:54

    kklo mau bikin contoh makalh gmana ya…………….?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,345 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: