Harry Potter and The Deathly Hallows (Part 1) Review

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I photo

Harry Potter and The Deathly Hallows (Part 1) dibuka oleh adegan sebuah bibir yang mengucap pidato; bahwa Kementerian Sihir masih berdiri dengan tegak, bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan, dan bahwasanya semuanya aman dan terkendali. Tentu saja adegan tersebut merupakan adegan yang bermaksud menimbulkan efek yang terbalik. Ia tidak bermaksud menenangkan, ia bermaksud menegangkan. Hal ini diperkuat oleh adegan demi adegan berikutnya yang muncul dalam film. Bahwa dunia sihir tidak aman lagi, bahwa kegelapan semakin dekat, dan bahwa ini adalah sebuah akhir.

Harry Potter and The Deathly Hallows dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (Part 1) akan dirilis di seluruh dunia pertengahan November 2010, sedangkan bagian keduanya sekaligus bagian terakhir (Part 2) untuk menyusul di musim panas 2011. Akan tepat jika dikatakan bahwa ia merupakan sebuah film yang pada akhirnya berhasil mencerabut sifat kekanakan dalam seri Harry Potter tanpa menjadikannya terlalu dewasa. Hal ini seharusnya sudah lama dilakukan oleh David Yates di film-film sebelumnya. Namun berdasarkan filmografi Yates di Harry Potter yang lalu (dan juga sutradara Harry Potter sebelumnya), ia terlihat ragu dan meninggalkan kesan bahwa Harry Potter merupakan sebuah seri yang tanggung dan kurang matang dalam beberapa aspek.

Usaha yang dilakukan oleh Yates dalam film The Order of The Phoenix dan Half Blood Prince sebenarnya sudah terlihat maksimal dan tepat. Tidak sekedar memindahkan halaman novel ke dalam film, Yates berani mengambil esensi dari novel-novel tersebut dan menciptakan interpretasi yang lebih sesuai untuk dinikmati dalam layar film (sebuah usaha yang terlihat sangat nyata dilakukan oleh Alfonso Cuaron dalam The Prisoner of Azkaban). Problem utama bukan di Yates, namun dalam kisah The Order of The Phoenix dan Half Blood Prince yang memang memiliki tingkat kesulitan sangat tinggi untuk diterjemahkan ke dalam film yang ingin memiliki segmentasi tegas: untuk anak-anak, remaja, atau dewasa?

Permasalahannya, Harry Potter mungkin memang tidak diciptakan untuk memiliki segmentasi umur yang tegas. Sedari buku pertamanya, Harry Potter and The Philosopher’s Stone, ia terlihat merupakan sebuah ‘hadiah’ untuk anak-anak sedunia persembahan dari J.K. Rowling. Dirilisnya buku Harry Potter merupakan pertanda bahwa masa depan literatur anak-anak tidaklah sesuram seperti yang diprediksi oleh banyak ahli. J.K. Rowling pada saat itu dianggap sebagai penyelamat minat baca generasi muda, yang praktis menjadikannya ‘sang pendongeng’ akhir abad 20. Ia menetaskan kembali gairah anak-anak untuk meraih sebuah buku dan membacanya hingga tuntas, dan dalam waktu bersamaan membuat remaja dan orang-tua turut memasukkan Harry Potter ke dalam bacaan wajib mereka. Dalam hal ini, Rowling berjasa besar dan menyumbangkan sebuah perubahan kultural yang tidak main-main.

Dunia Harry Potter berangsur-angsur berubah seiring dengan dirilisnya buku demi buku, di mana Harry bertambah tua dari tahun ke tahun. Semakin gelap? Mungkin. Namun semakin dewasa? Tergantung dari sudut mana kita mengartikan ‘kedewasaan’ tersebut. Harry memang dideskripsikan tumbuh dengan fisik yang semakin tinggi serta mulai memiliki ketertarikan seksual dengan lawan jenis. Tetapi dari buku pertama-pun, ia memang sudah dewasa. Ia merupakan seorang anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya, memegang sebuah tanggung jawab yang terlampau berat, dan memiliki proses tumbuh-kembang yang diwarnai dengan perang antar penyihir-penyihir besar. Tidak wajar seperti anak-anak seusianya. Seperti literatur besar pada umumnya, Harry Potter sudah ‘meletakkan bata pertamanya’ dengan sebuah kompleksitas yang pas. Tidak terlalu rumit, namun juga tidak sesederhana yang terbaca.

Ini adalah saat di mana David Yates berhasil menangkap fakta tersebut, dan menuangkannya dengan baik di dalam The Deathly Hallows. Walau terasa cukup panjang, namun di sisi lain The Deathly Hallows berhasil mengedepankan elemen-elemen penting di dalam buku dan tidak berlarut-larut dalam konflik yang terjadi di cerita. The Deathly Hallows-pun bisa dinikmati dengan atau tanpa membaca bukunya terlebih dahulu. Pendek kata, ia merupakan sebuah contoh yang baik tentang bagaimana sebuah buku – sesulit apapun – bisa diterjemahkan ke dalam layar lebar selama kita menangkap inti yang terkandung dalam cerita.

Sebuah kisah bisa berdiri di dalam ranah manapun. Apakah Harry Potter merupakan cerita anak-anak, remaja, atau dewasa? Apakah itu penting? Saksikan bagaimana The Deathly Hallows bersihir dan silahkan dinilai sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 154,100 Sentuhan
free counters
%d blogger menyukai ini: