Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme

Kondisi Umum

Bom Bali kedua yang meledak pada tanggal 1 Oktober 2005 di tiga lokasi yaitu Raja’s Restaurant, Nyoman’s Cafe dan Menega’s Café telah menelan korban 22 orang meninggal dunia dan ratusan orang mengalami luka-luka. Peristiwa tersebut bertepatan dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak(BBM) yang menimbulkan pro dan kontra, sehingga hal tersebut dianggap sebagai upaya pemerintah untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap kebijakan pemerintah menaikkan BBM. Meskipun dampaknya tidak sebesar peristiwa Bom Bali pertama, tetapi kejadian tersebut semakin meneguhkan stigma asing bahwa Indonesia bukan tempat yang aman bagi pariwisata dan investasi. Hal ini terlihat dari tidak tercapainya sasaran kunjungan wisata 2005 dan pertumbuhan investasi yang masih tetap bahkan cenderung menurun.

Aksi teroris yang bernuansa lokal intensitasnya cenderung menurun. Namun di daerah konflik, khususnya Poso, aksi-aksi teroris dari upaya membenturkan kepentingan politik dan SARA antar masyarakat atau antar aparat masih sering dijumpai. Selain teror bom yang diledakkan di sejumlah tempat ibadah bertepatan dengan acara keagamaan, serta terjadinya teror individual yang bertujuan menciptakan konflik merupakan indikasi rumitnya penyelesaian masalah Poso.

Hal yang patut dipuji, masyarakat yang selama ini terlibat dan berada di wilayah konflik. Poso tidak terpengaruh rasa toleransinya, sehingga upaya teror tersebut tidak berdampak signifikan. Sementara itu di wilayah-wilayah lain relatif aman dari gangguan teroris yang bernuansa lokal seiring dengan makin mantapnya kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Keberhasilan aparat kepolisian menewaskan tokoh utama terorisme di Indonesia yang diduga terlibat serangkaian peledakan bom di Bali, Jakarta, dan sejumlah tempat lainnya telah meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja kepolisian dalam pencegahan dan penanggulangan teroris. Perhatian dunia internasional atas tewasnya tokoh utama teroris tersebut cukup positif, hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya komitmen internasional membantu penanganan teroris.

Pada tahun 2006, kesungguhan aparat keamanan untuk terus membidik titik-titik strategis bagi persembunyian teroris senantiasa ditingkatkan guna membatasi gerak kelompok teroris. Keberhasilan aparat keamanan menewaskan gembong teroris Dr. Azhari tampaknya masih menghadapi tantangan terkait dengan belum tertangkapnya Nurdin M Top dan pengungkapan jaringannya.

Oleh karena itu, aparat keamanan selalu siap siaga mengantisipasi aksi balasan yang dilakukan oleh kelompok Nurdin. Selanjutnya, pada tahun 2007, berbagai upaya akan terus dilakukan termasuk upaya memutus jaringan teroris yang melibatkan dan bersentuhan dengan lembaga pendidikan keagamaan/pesantren. Untuk menghindarkan kesalah pahaman umat Islam, maka upaya pendekatan kepada tokoh-tokoh keagamaan/pesantren dilaksanakan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesan memojokkan agama Islam dan penganutnya. Sementara itu kerjasama penanggulangan dan pencegahan teroris secara lintas negara dilaksanakan melalui peningkatan kapasitas kelembagaan dan peningkatan infrastruktur aturan hukum.

Pada tahun 2005, Indonesia telah meresmikan kerjasama bilateral di bidang terrorism diantaranya dengan Polandia telah menandatangani Kerjasama dalam Penanggulangan Kejahatan Transnasional dan Jenis Kejahatan Lain, dan dengan Vietnam telah menandatangani MoU dalam Pencegahan dan Penangggulangan Kejahatan.

Secara multilateral, Indonesia terlibat dalam ASEAN – Mendeklarasi Gabungan Republik Korea dalam Kerjasama Penanggulangan Teroris Internasional, ASEAN – Mendeklarasi Gabungan dalam Kerjasama untuk Penanggulangan Teroris Internasional, dan ASEAN – Mendeklarasi Gabungan New Zealand dalam Kerjasama untuk Penanggulangan Teroris Internasional.

Sementara itu dalam hal peningkatan infrastruktur aturan hukum, pemerintah sedang dalam tahap akhir proses ratifikasi dua konvensi internasional yaitu Konvensi Internasional untuk Pelarangan Keuangan pada Teroris (1999) dan Konvensi Internasional untuk Pelarangan Pemboman pada Teroris (1997) yang diharapkan dapat diundangkan pada tahun 2006. Aksi terorisme dalam jangka pendek seringkali berdampak cukup signifikan terhadap upaya-upaya menciptakan iklim investasi yang kondusif di dalam negeri.

Oleh karena itu, kemampuan menangani dan menangkap pelaku serta mengungkap jaringan terorisme dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan mengamankan aktivitas dunia usaha. Belum tertangkapnya semua tokoh kunci teroris merupakan tantangan bagi upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan penanaman modal asing. Ketidak pastian jaminan keamanan dalam negeri dari ancaman teroris, barangkali merupakan salah satu jawaban utama mengapa pertumbuhan investasi asing di bidangindustri masih berjalan di tempat dan menempatkan Indonesia pada jajaran terendah tujuan investasi dunia. Dengan demikian tantangan utama dalam pencegahan dan penanggulangan teroris dalam tahun 2007 adalah meningkatkan kinerja aparat keamanan dan intelijen dalam mengantisipasi, menangani, dan evakuasi aksi dan ancaman teroris.

SASARAN PEMBANGUNAN TAHUN 2007
Sasaran pokok yang akan dicapai dalam upaya pencegahan dan penanggulangan teroris di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebagai berikut:
Terungkapnya jaringan terorisme termasuk tertangkapnya tokoh-tokoh utama teroris.
Meningkatnya peran serta masyarakat dalam menanggulangi aksi teroris.
Meningkatnya daya cegah dan tangkal negara terhadap ancaman teroris secara keseluruhan.

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TAHUN 2007
Arah kebijakan yang akan ditempuh dalam rangka mencegah dan menanggulangi kejahatan terorisme pada tahun 2007 adalah sebagai berikut:
Peningkatan koordinasi dan kapasitas lembaga pemerintah dalam pencegahan dan menanggulangan teroris.
Memperkuat kesatuan anti terror dalam mencegah, menindak dan mengevakuasi aksi teroris.
Melaksanakan penegakan hukum penanggulangan teroris berdasarkan prinsip demokrasi dan HAM yang terbebas dari unsur diskriminasi dan pendiskreditan.
Peningkatan operasional penggulangan aksi teroris melalui penangkapan tokoh-tokoh utama pelaku teroris.
Peningkatan ketahanan masyarakat dalam mengantisipasi aksi-aksi teroris.

INTERPOL INDONESIA

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • 105,144 Sentuhan
free counters
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: